Seperti di Indonesia, televisi di Thailand setiap hari juga menayangkan sinetron. Sebagaimana dilansir kantor berita AFP, Minggu (6/1/2013), sinetron yang diputar pada prime time tersebut tidak lagi mengudara sejak Jumat (4/1/2013).
Channel 3 tidak menjelaskan secara detail alasan penghentiannya selain pernyataan 'isi yang tidak pantas'. Alasan penghentian yang tidak jelas tersebut menyulut protes dari pemirsa yang kemudian melancarkan gelombang protes melalui situs jejaring sosial Facebook yang dalam dua hari terakhir sudah berhasil mengumpulkan 40 ribu pendukung.
Salah seorang pendukungnya adalah Chavanond Intarakomalyasut, politisi dari Partai Demokrat yang beroposisi terhadap pemerintahan PM Yingluck Shinawatra. Dia menuding ada intervensi dari pemerintah dan menyerukan agar dilakukan penyelidikan secara menyeluruh terhadap kemungkinan itu.
"Ada campur tangan politik. Sinetron itu dilarang karena temanya korupsi," ujar Chavanond Intarakomalyasut kepada AFP.
Tudingan dari pihak oposan tersebut spontan dibantah oleh pemerintah Thailand. Melalui juru bicaranya, Tosaporn Sereerak, ditegaskan bahwa pemerintah tidak melakukan intervensi dan materi sinetron tersebut juga dinilainya baik-baik saja.
"Aku menontonnya beberapa kali. Itu tentang sihir hitam serta politik. Meskipun saya seorang politisi, saya tidak merasa dilecehkan," tegas Tosaporn Sereerak.
Tidak jauh berbeda dibanding Indonesia, korupsi juga merupakan masalah besar di Thailand. Bahkan penggulingan Thaksin Shinawatra sebagai perdana menteri pada 2006 silam juga dipicu oleh tuduhan praktik koruptif.
Kakak kandung dari PM Yingluck Sinawatra tersebut saat ini tinggal di luar negeri untuk menghindari sanksi hukum. Namun demikian diyakini dia masih memiliki jaringan berpengaruh terhadap kendali yang kuat jalannya pemerintahan Thailand yang dipimpin oleh adiknya.
(lh/tor)











































