Konflik Suriah tak jua berakhir. Turki, Qatar dan Arab Saudi pun dituding bertanggung jawab atas meningkatnya konflik dan korban jiwa yang terus berjatuhan di Suriah.
Tuduhan tersebut dilontarkan pemimpin kelompok Hizbullah, Seyyed Hassan Nasrallah dalam pidatonya di kota Baalbek, Libanon selatan seperti dilansir Press TV, Jumat (4/1/2013).
Dikatakan Sekjen Hizbullah itu, Turki, Qatar dan Arab Saudi mempersenjatai dan mendanai para militan yang berperang melawan tentara pemerintah Suriah. Menurut Nasrallah, krisis di Suriah memiliki solusi politik. Dia pun mengingatkan, konflik Suriah yang berkepanjangan bisa menimbulkan konsekuensi mengerikan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dikatakannya, Libanon merupakan negara yang paling terkena dampaknya di Timur Tengah akibat krisis Suriah. Pemimpin Hizbullah itu pun menyerukan faksi-faksi politik Libanon untuk tidak melakukan langkah-langkah yang akan membawa negeri itu ke kekacauan.
Konflik Suriah telah berlangsung sejak Maret 2011 lalu. Puluhan ribu orang, sebagian besar warga sipil, dilaporkan telah tewas selama pergolakan tersebut. Sejumlah negara terus mendesak Presiden Suriah Bashar al-Assad untuk meletakkan jabatannya guna menghentikan pertumpahan darah tersebut.
(ita/nrl)










































