21 Bulan Konflik Suriah, Lebih dari 60 Ribu Sipil Telah Tewas

21 Bulan Konflik Suriah, Lebih dari 60 Ribu Sipil Telah Tewas

Ramdhan Muhaimin - detikNews
Kamis, 03 Jan 2013 02:39 WIB
21 Bulan Konflik Suriah, Lebih dari 60 Ribu Sipil Telah Tewas
Damaskus - Konflik militer di Suriah hingga kini belum menemukan titik terang perdamaian. Perang horizontal yang telah berlangsung selama 21 bulan itu telah menewaskan lebih dari 60.000 ribu orang dari kalangan sipil maupun militer. Sementara ribuan lainnya terluka dan ratusan ribu lainnya menjadi pengungsi di negara-negara tetangga.

Komisaris Tinggi HAM PBB, Navi Pillay menyebutkan tidak kurang dari 59.648 orang telah meninggal hingga akhir November lalu dalam konflik yang dimulai dari sebuah pemberontakan damai di bulan Maret 2011 lalu itu.

"Dalam konflik hingga akhir November, kita berasumsi bahwa lebih dari 60.000 orang telah tewas pada awal 2013," kata Pillay dalam sebuah pernyataannya di Jenewa, sebagaimana dilansir AFP, Kamis (3/1/2013).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Jumlah korban jauh lebih tinggi dari yang kami perkirakan, dan ini benar-benar mengejutkan," tuturnya.

Pillay mengatakan pada Desember 2011 lalu, PBB belum dapat memberikan angka yang tepat tentang jumlah korban tewas dalam konflik Suriah. Namun media berdasarkan riset Observatorium Suriah untuk Hak Asasi Manusia, menyebutkan hingga hari Senin lebih dari 46.000 orang tewas.

"Meskipun ini adalah analisis yang paling rinci dan luas dari jumlah korban sejauh ini, ini tidak menunjukkan gambaran definitif," kata Pillay.

Analisis tersebut juga menunjukkan peningkatan angka kematian per bulan sejak awal konflik, tumbuh dari sekitar 1.000 orang pada musim panas 2011 menjadi rata-rata lebih dari 5.000 orang tewas sejak Juli 2012.

Analisa observatorium juga menyebutkan akibat serangan udara yang dilakukan rezim Bashar Assad di wilayah Timur Ghuta kota Damaskus, puluhan orang tewas di mana sebagian besar terbakar secara mengenaskan.

"Ada 12 mayat yang telah ditemukan di tempat kejadian, termasuk sejumlah pemberontak dari batalion lokal yang berbeda," kata Direktur Observatorium Rami Abdel Rahman kepada AFP.

Jumlah korban tewas kemungkinan meningkat karena masih banyak korban yang coba dievakuasi dari bawah reruntuhan akibat serangan udara rezim Assad.

(rmd/vid)


Berita Terkait