Dianne Feinstein, yang merupakan Ketua Komite Inteljien Senat, mengumumkan kepada wartawan setempat, RUU tersebut akan diajukannya sebelum rapat kongres digelar pada 3 Januari 2013 mendatang. Feinstein yakin Presiden Barack Obama akan mendukung RUU tersebut.
"Saya akan mengenalkannya ke Senat dan kemudian RUU yang sama akan dikenalkan ke DPR, ini RUU yang melarang senjata api," ujar senat dari negara bagian California ini dalam acara 'Meet the Press' yang ditayangkan NBC dan dilansir AFP, Senin (17/12/2012).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Pasti akan ada RUU," tegasnya.
"Di dalamnya akan diatur pelarangan penjualan, pengalihan, impor dan kepemilikan (senjata api). Tidak akan berlaku surut, tapi prospektif. Di dalamnya juga akan melarang clips, drums, atau strips yang berisi lebih dari 10 peluru," imbuh Feinstein.
Lebih lanjut, Feinstein menyatakan keyakinannya bahwa Presiden Obama ikut mendukung langkahnya ini. "Saya yakin dia akan mendukung," ucapnya.
Perlu diketahui bahwa sebelum disahkan sebagai undang-undang, tentu RUU yang diajukan Feinstein ini harus lolos pada tahapan Kongres terlebih dahulu. Hal ini tentu tidak mudah karena mayoritas parlemen AS didominasi oleh anggota parlemen dari Partai Republik, yang jelas-jelas menentang peraturan yang lebih ketat soal senjata.
Larangan senjata api pernah diterapkan secara nasional di AS pada tahun 1994 lalu dan berakhir pada tahun 2004. Upaya untuk memberlakukan kembali peraturan tersebut selalu gagal. Termasuk Presiden Obama yang sempat menyatakan dukungannya terhadap pelarangan senjata api di AS dalam kampanye presiden tahun 2008 lalu.
Obama banyak dikritik karena tidak menjadikan isu pelarangan senjata tersebut sebagai prioritas dalam kebijakannya. Namun hal ini juga tidak lepas dari banyaknya komunitas masyarakat AS, terutama di Ohio dan Virginia, yang sangat ramah terhadap penggunakan senjata. Bahkan, Asosiasi Senapan Nastional (NRA) AS selama ini berhasil memainkan lobi yang kuat di parlemen.
(nvc/ita)











































