Sebelumnya, Wakil Menteri Luar Negeri Rusia Mikhail Bogdanov mengatakan, rezim Suriah "kini semakin kehilangan kendali atas sebagian besar wilayah negara tersebut." Pernyataan ini cukup mengejutkan mengingat selama ini Rusia gigih membela pemerintahan Presiden Suriah Bashar al-Assad.
Sejak pergolakan melanda Suriah, Rusia terus menunjukkan sikapnya sebagai sekutu setia rezim Assad. Bersama dengan China, Rusia telah tiga kali memveto alias menggagalkan resolusi Dewan Keamanan PBB mengenai sanksi-sanksi terhadap Suriah.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sebelumnya, pemerintah AS telah meminta semua negara yang punya pengaruh di Suriah untuk mencoba membujuk Assad agar mundur dan membiarkan transisi politik dimulai.
Dicetuskan Nuland, jika krisis Suriah dibiarkan berlarut-larut maka akan lebih sulit untuk membangun kembali Suriah nantinya.
Pemerintah Rusia membuat AS terkejut pekan lalu ketika Menteri Luar Negeri (Menlu) Rusia Sergei Lavrov setuju untuk ikut serta bersama Menlu AS Hillary Clinton dalam pembicaraan dengan utusan khusus PBB Lakhdar Brahimi. Ketiganya membahas cara-cara "bagaimana memajukan proses perdamaian dan memobilisasi aksi internasional yang lebih besar tercapainya demi solusi politik atas krisis Suriah."
(ita/nrl)











































