AS: Rusia Akhirnya Sadar Akan Realitas di Suriah

AS: Rusia Akhirnya Sadar Akan Realitas di Suriah

- detikNews
Jumat, 14 Des 2012 12:58 WIB
AS: Rusia Akhirnya Sadar Akan Realitas di Suriah
Foto: AFP
Washington, - Pemerintah Amerika Serikat menyambut baik indikasi perubahan sikap Rusia atas Suriah. Menurut AS, pemerintah Rusia akhirnya sadar akan realitas bahwa rezim Suriah akan segera tumbang.

Sebelumnya, Wakil Menteri Luar Negeri Rusia Mikhail Bogdanov mengatakan, rezim Suriah "kini semakin kehilangan kendali atas sebagian besar wilayah negara tersebut." Pernyataan ini cukup mengejutkan mengingat selama ini Rusia gigih membela pemerintahan Presiden Suriah Bashar al-Assad.

Sejak pergolakan melanda Suriah, Rusia terus menunjukkan sikapnya sebagai sekutu setia rezim Assad. Bersama dengan China, Rusia telah tiga kali memveto alias menggagalkan resolusi Dewan Keamanan PBB mengenai sanksi-sanksi terhadap Suriah.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Namun Washington yakin bahwa kini Moskow akan mempertimbangkan kembali sikapnya tersebut. "Saya pikir pertanyaannya sekarang adalah, apakah pemerintah Rusia akan bergabung dengan kita dalam komunitas internasional yang tengah bekerja dengan oposisi untuk mencoba mencapai transisi demokrasi yang lancar?" ujar juru bicara Departemen Luar Negeri AS Victoria Nuland seperti dilansir kantor berita AFP, Jumat (14/12/2012).

Sebelumnya, pemerintah AS telah meminta semua negara yang punya pengaruh di Suriah untuk mencoba membujuk Assad agar mundur dan membiarkan transisi politik dimulai.

Dicetuskan Nuland, jika krisis Suriah dibiarkan berlarut-larut maka akan lebih sulit untuk membangun kembali Suriah nantinya.

Pemerintah Rusia membuat AS terkejut pekan lalu ketika Menteri Luar Negeri (Menlu) Rusia Sergei Lavrov setuju untuk ikut serta bersama Menlu AS Hillary Clinton dalam pembicaraan dengan utusan khusus PBB Lakhdar Brahimi. Ketiganya membahas cara-cara "bagaimana memajukan proses perdamaian dan memobilisasi aksi internasional yang lebih besar tercapainya demi solusi politik atas krisis Suriah."

(ita/nrl)


Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads