Para demonstran, baik yang menentang maupun yang mendukung Presiden Mesir Mohamed Morsi, berkumpul di wilayah tersebut sejak beberapa minggu terakhir. Mereka dijaga oleh para polisi yang juga bersiaga di Lapangan Tahrir, guna mengantisipasi terjadinya bentrokan antara kedua kelompok demonstran.
Menurut para saksi mata, penyerang yang terdiri atas beberapa orang ini melemparkan bom molotov ke arah tenda yang ditempati para demonstran pada Selasa (11/12) dini hari. Bom molotov tersebut memicu kebakaran kecil dan para demonstran pun berteriak. Beberapa demonstran yang tertidur pun terbangun.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dilaporkan, 9 orang demonstran mengalami luka-luka dalam insiden tersebut. Namun tidak dijelaskan lebih lanjut mengenai luka yang diderita.
Kelompok oposisi, kelompok liberal maupun kelompok sayap kiri berkumpul di Lapangan Tahrir dan melakukan long-march hingga ke istana kepresidenan Mesir di Kairo dalam rangka memprotes referendum mengenai konstitusi baru yang akan digelar pada 15 Desember mendatang. Sementara itu, kelompok Islamis, Ikhwanul Muslimin yang mendominasi parlemen, mendorong para pengikutnya untuk menunjukkan dukungan bagi Presiden Morsi dan referendum yang akan digelar.
Sejauh ini, unjuk rasa tersebut telah memakan korban jiwa, yakni 7 orang tewas dan ratusan lainnya luka-luka. Pekan lalu, para demonstran pendukung dan penentang Morsi terlibat bentrokan di luar istana kepresidenan di Kairo. Sebagai langkah antisipasi, aparat setempat memasang kawat berduri dan barikade beton serta mensiagakan tank-tank di luar istana.
Bahkan pada Minggu (9/12) malam, Presiden Morsi memberikan kewenangan sementara bagi militer Mesir untuk melakukan penangkapan terhadap para demonstran. Kewenangan tersebut berlaku selama referendum digelar dan hingga hasilnya diumumkan.
(nvc/ita)











































