Menurut juru bicara militer setempat, Letnan Kolonel Lyndon Paniza, sebanyak 49 orang tewas akibat longsoran lumpur dan banjir yang menerjang wilayah pegunungan bagian selatan New Bataan. Sedangkan 51 korban tewas lainnya berasal dari wilayah pesisir pantai timur Pulau Mindanao.
Salah satu korban tewas di wilayah New Bataan merupakan seorang tentara yang tewas saat tengah melakukan tugas penyelamatan korban. Paniza menambahkan, 3 tentara lainnya dari unit yang sama mengalami luka-luka dan 6 tentara lainnya masih hilang sejak Selasa (4/12).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Korban-korban tewas tersebut kebanyakan berasal dari wilayah terpencil. Para petugas penyelamat harus berjibaku dengan kondisi medan yang sulit dan cuaca dalam upaya pencarian dan penyelamatan korban.
Topan Bopha disebut-sebut sebagai topan terdahysat yang melanda Filipina sepanjang tahun ini. Topan ini menerjang wilayah selatan Filipina dengan kecepatan 210 kilometer per jam. Topan ini menimbulkan hujan deras dan angin kencang. Banyak pohon yang roboh dan sejumlah kabel listrik terputus akibat topan ini.
Hingga Selasa (4/12) malam, sebagian besar wilayah Mindanao gelap gulita karena aliran listrik masih terputus. Tidak hanya itu saja, topan ini juga memicu banjir dan memaksa lebih dari 56 ribu warga setempat mengungsi dari rumahnya.
Akibat topan ini, sebanyak 146 penerbangan dari dan menuju ke Mindanao terpaksa dibatalkan sejak Senin (3/12) malam. Kemudian lebih dari 3 ribu penumpang kapal feri terlantar karena tidak ada kapal di pelabuhan setempat yang diperbolehkan berlayar.
Diketahui bahwa Filipina biasa dilanda sekitar 20 jenis topan per tahunnya, yang beberapa di antaranya bersifat merusak. Topan Bopha ini merupakan topan ke-16 yang melanda tahun ini. Pada Agustus lalu, hampir 100 orang tewas akibat banjir besar yang disebabkan oleh serangkaian badai. Lebih dari sejuta orang kehilangan tempat tinggal.
(nvc/ita)










































