NATO menyetujui permintaan negara anggota Turki untuk pengerahan rudal-rudal Patriot guna mempertahankan perbatasannya dari kemungkinan serangan Suriah.
Hal tersebut diputuskan dalam pertemuan 28 negara anggota NATO yang digelar di Brussels, Belgia pada Selasa, 4 Desember waktu setempat. Kepala NATO Anders Fogh Rasmussen mengatakan, keputusan aliansi ini mencerminkan "komitmen kuat" untuk menjaga keamanan ke-28 negara anggotanya.
"Kami bersama Turki dalam semangat solidaritas yang kuat," kata Rasmussen kepada para wartawan seperti dilansir kantor berita AFP, Rabu (5/12/2012).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dalam statemen bersama, NATO menyatakan telah menyetujui permintaan Turki akan kemampuan pertahanan udara guna membela penduduk dan wilayah Turki dari kemungkinan serangan Suriah. Ditegaskan bahwa sistem rudal Patriot ini semata-mata untuk pertahanan diri.
Pemerintah Turki pun menyambut keputusan NATO dan menegaskan bahwa senjata tersebut hanya akan digunakan untuk tujuan defensif.
"Langkah-langkah yang akan diambil Turki tak akan digunakan untuk operasi ofensif. Sistem ini hanya dimaksudkan untuk pertahanan wilayah Turki," tegas Kementerian Luar Negeri Turki.
Keputusan NATO ini disampaikan di tengah laporan bahwa Suriah tengah melakukan pemindahan senjata kimia ke sebuah lokasi. Hal ini memicu spekulasi bahwa rezim Suriah akan menggunakan senjata kimia untuk menghadapi para pemberontak. NATO pun mengecam hal tersebut.
"Para anggota NATO menyampaikan keprihatinan besar atas laporan bahwa rezim Suriah tengah mempertimbangkan penggunaan senjata kimia. Tindakan seperti itu sama sekali tak bisa diterima dan merupakan pelanggaran nyata hukum internasional," tegas Rasmussen.
(ita/nrl)










































