Juru bicara Departemen Luar Negeri AS Victoria Nuland mengatakan, Washington terus mengikuti perkembangan situasi di Mesir terkait maraknya aksi demo menentang dekrit yang baru dikeluarkan Presiden Mohamed Morsi.
"Situasi masih belum jelas," kata Nuland kepada para wartawan seperti dilansir kantor berita AFP, Rabu (28/11/2012). "Kami tengah berkonsultasi dengan berbagai pihak untuk memahami bagaimana mereka memandang situasi ini," imbuhnya.
Diisyaratkan Nuland, jika Mesir tampak akan melenceng dari jalur demokrasi, sejumlah bantuan internasional bisa terancam.
"Kami ingin melihat Mesir melanjutkan arah reformasi guna memastikan dana yang datang dari IMF benar-benar mendukung stabilisasi dan revitalisasi perekonomian dinamis yang didasarkan pada prinsip-prinsip pasar," tegas Nuland.
Sementara juru bicara Gedung Putih Jay Carney mengatakan, "kebuntuan konstitusional saat ini merupakan situasi internal Mesir yang hanya bisa diselesaikan oleh rakyat Mesir sendiri, melalui dialog demokratis yang damai."
Pekan lalu, Morsi mengeluarkan dekrit yang memungkinkan dirinya mengeluarkan keputusan atau aturan apapun yang sifatnya final dan tak bisa diganggu gugat. Dekrit tersebut menempatkan diri Morsi tidak di bawah pengawasan siapapun juga dan bahwa keputusannya tidak dapat diubah oleh pengadilan atau otoritas lainnya.
Dekrit tersebut menuai protes rakyat Mesir di berbagai wilayah, termasuk Alexandria. Ribuan pendukung oposisi termasuk politisi liberal Mohamad ElBaradei, mantan kepala badan tenaga atom PBB, telah ikut dalam aksi demo menentang dekrit itu. ElBaradei menuding Morsi menjadikan dirinya sebagai "Firaun baru" dengan mengambil begitu banyak wewenang.
Namun Morsi menegaskan, dirinya hanya ingin membawa Mesir maju sebagai negara yang stabil dan aman. Morsi juga menegaskan, dekrit tersebut sifatnya hanya temporer.
(ita/nrl)











































