Bentrokan sempat terjadi antara demonstran dengan polisi anti huru-hara yang mengawal unjuk rasa di jalanan dekat Lapangan Tahrir pada Rabu (28/11) pagi. Polisi terpaksa menembakkan gas air mata ke arah demonstran.
Hal tersebut memaksa mereka untuk berlari menjauh. Menjauhi asap gas air mata yang mulai menyebar, bahkan hingga ke dalam tenda yang digunakan para demonstran yang menginap sejak Selasa (27/11) malam.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Puluhan ribu demonstran terpantau memadati Lapangan Tahrir sejak kemarin (27/11). Mereka geram dengan dekrit yang dikeluarkan oleh Presiden Morsi, yang dinilai akan memberikan kekuasaan tak terbatas kepadanya. Unjuk rasa serupa juga digelar serentak di hampir 27 provinsi di wilayah Mesir.
Menurut data Kementerian Kesehatan, dilaporkan sedikitnya 100 orang luka-luka dalam aksi demo menentang dekrit Presiden Morsi ini. Sedangkan korban tewas sejauh ini dilaporkan mencapai 3 orang.
Korban tewas tersebut, antara lain seorang warga bernama Gaber Salah, yang tewas dalam bentrokan menentang dekrit Presiden Morsi di jalan Mohammed Mahmud, Minggu (25/11) malam. Kemudian seorang anggota Ikhwanul Muslimin, Fathi Mohammed yang tewas dalam bentrokan menentang Presiden Morsi di luar kantor Ikhwanul Muslimin.
Terakhir, seorang anggota Aliansi Sosialis Populer bernama Fathy Gharib (56), yang mengalami sesak napas usai menghirup gas air mata. Ketika dilarikan ke rumah sakit Al-Helal di Kairo, Gharib dinyatakan meninggal dunia pada Selasa (26/11) waktu setempat.
Pekan lalu, Morsi mengeluarkan dekrit yang memungkinkan dirinya mengeluarkan keputusan atau aturan apapun yang sifatnya final dan tak bisa diganggu gugat. Dekrit tersebut menempatkan diri Morsi tidak di bawah pengawasan siapapun juga dan bahwa keputusannya tidak dapat diubah oleh pengadilan atau otoritas lainnya.
(nvc/ita)











































