Menurut Hamas, Abbas menelepon Perdana Menteri Hamas di Gaza, Ismail Haniya pada Kamis, 22 November lalu untuk mengucapkan selamat atas kemenangannya dan menyampaikan dukacita atas para korban tewas.
Percakapan antara kedua rival pemimpin Palestina itu terjadi setelah gencatan senjata antara Hamas dan Israel yang mengakhiri eskalasi di Gaza selama 8 hari. Selama 8 hari tersebut, sedikitnya 166 warga Palestina dan 6 warga Israel tewas.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Dia (Abbas) bahkan tidak mengecam ketika tiga warga sipil Israel tewas di Kiryat Malachi (kota di Israel selatan yang terkena serangan roket Hamas)," kata pejabat yang tak ingin disebutkan namanya itu.
"Dia malah memuji kepemimpinan Hamas atas kejahatan mereka," imbuhnya seperti dilansir kantor berita AFP, Sabtu (24/11/2012).
Pejabat Israel itu juga mengejek Abbas yang berupaya mengubah status Palestina di PBB. "Juga aneh bagaimana dia akan pergi ke PBB untuk meminta status kenegaraan di saat dia hanya memiliki otoritas atas separuh rakyat Palestina," cetus pejabat tersebut mengenai Abbas yang berkuasa di Tepi Barat, sementara Gaza dikuasai Hamas.
Seperti diketahui, Abbas berencana mengajukan permohonan ke Majelis Umum PBB pada 29 November mendatang untuk meningkatkan status Palestina di PBB. Selama ini Palestina hanya sebagai entitas pengamat di PBB dan kini Palestina ingin meningkatkan statusnya menjadi negara non-anggota. Upaya Palestina itu menimbulkan protes dan kemarahan pemerintah Israel.
(ita/ita)











































