Senat AS Ingin Eks Direktur CIA Bersaksi Soal Serangan Benghazi

Senat AS Ingin Eks Direktur CIA Bersaksi Soal Serangan Benghazi

- detikNews
Rabu, 14 Nov 2012 12:46 WIB
Senat AS Ingin Eks Direktur CIA Bersaksi Soal Serangan Benghazi
David Petraeus (AFP)
Washington, - Para senator Amerika Serikat (AS) baik yang berasal dari Partai Demokrat maupun Partai Republik, mendorong mantan Direktur CIA David Petraeus untuk memberikan testimoni soal serangan Konsulat AS di Benghazi, Libya pada 11 September lalu. Para senator ingin mengetahui lebih lanjut soal insiden yang menewaskan Dubes AS tersebut.

"Saya yakin, dia (Petraeus) akan memberikannya (testimoni). Saya pikir dia seorang yang bertanggung jawab dan saya yakin dia akan datang," ujar Kepala Komite Intelijen Senat, Dianne Feinstein, seperti dilansir AFP, Rabu (14/11/2012).

"Jadi kita akan berusaha mengaturnya untuk hari ini karena dia memiliki sudut pandang sebagai orang yang benar-benar berada di sana... Saya pikir sangat penting bagi kami untuk mendengarnya," imbuh senator asal Partai Demokrat ini.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sejumlah senator AS menilai Petraeus memiliki peran penting dalam membongkar apa yang sebenarnya terjadi di Konsulat AS di Benghazi saat itu. Diketahui bahwa serangan di Benghazi tersebut menewaskan 4 warga AS, termasuk Dubes AS untuk Libya Christopher Stevens.

Menurut senator partai Republik, Marco Rubio yang duduk dalam kursi Komite Intelijen dan Urusan Luar Negeri, masih banyak pertanyaan yang tidak terjawab atas insiden di Benghazi tersebut. Oleh karena itu, kongres sangat mengharapkan testimoni dari Petraeus dan Menlu AS Hillary Clinton.

"Dia (Hillary-red) memiliki peran penting. Saya pikir kita juga harus mendengar keterangan David Petraeus," tutur Rubio.

Dikatakan Rubio, dia dan yang lainnya ingin tahu mengapa pemerintahan Barack Obama lambat dalam mengakui bahwa insiden Benghazi merupakan serangan teroris. Seperti diketahui, pemerintah AS awalnya menyebut serangan Benghazi sebagai akibat aksi demonstrasi atas film "Innocence of Muslims".

"Yang sangat penting diketahui adalah mengapa mereka menunggu begitu lama... untuk secara terbuka mengubah sikap mereka soal itu," tutur Rubio.

Sedangkan Senator Dick Durbin dari partai Demokrat menyebutkan, hanya anggota Komite Senat Urusan Luar Negeri yang diberitahu secara tertutup soal kronologi detail insiden 11 September 2012 tersebut. Namun tidak pernah ada yang menjelaskan secara detail kepada anggota kongres lainnya.

Senator Republik lainnya, James Risch, yang juga duduk dalam Komite Intelijen dan Urusan Luar Negeri mengaku dirinya masih memilik banyak pertanyaan soal insiden Benghazi. "Kami memang mendengar penjelasan sebelumnya, tapi banyak dari kami yang masih menginginkan penjelasan yang lebih mendalam daripada yang kami dapat sebelumnya," ucap Risch.

Dalam rapat kongres pertama sejak terpilihnya kembali Barack Obama sebagai Presiden AS, para anggota kongres seharusnya fokus membahas kebijakan fiskal, termasuk persoalan pajak dan pemotongan anggaran.
Namun demikian, isu serangan Benghazi tiba-tiba mencuat ke publik pasca mundurnya Petraeus dari kursi tertinggi CIA. Kurang dari 5 sidang kongres yang digelar secara tertutup sepanjang minggu ini khusus membahas apa yang sebenarnya terjadi di Benghazi, Libya saat itu.

Dalam surat pengunduran dirinya yang dikirim kepada Presiden Obama pekan lalu, Petraeus mengakui adanya perselingkuhan dengan seorang wanita yang menjadi alasan pengunduran dirinya. Wanita tersebut adalah penulis biografinya, Paula Broadwell.
(nvc/ita)


Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads