Obama Harus Penuhi Janji Untuk Menutup Kamp Guantanamo

Obama Harus Penuhi Janji Untuk Menutup Kamp Guantanamo

Rita Uli Hutapea - detikNews
Jumat, 09 Nov 2012 17:19 WIB
Obama Harus Penuhi Janji Untuk Menutup Kamp Guantanamo
Foto: AFP
Washington, - Kelompok-kelompok HAM mendesak Presiden Amerika Serikat Barack Obama untuk memenuhi janjinya menutup kamp Guantanamo di Kuba. Obama juga diminta untuk menghentikan serangan-serangan pesawat tak berawak AS di sejumlah negara.

Masih lekang dalam ingatan, Obama pernah berjanji akan menutup kamp Guantanamo, yang menampung para tersangka Al-Qaeda dan Taliban yang ditangkap dalam perang melawan teror. Perang tersebut gencar dilakukan setelah serangan teroris 11 September 2001.

Janji penutupan Guantanamo tersebut dilontarkan Obama tak lama setelah dirinya dilantik menjadi Presiden AS pada Januari 2009 lalu. Namun janji itu belum juga terwujud. Bahkan gaungnya kini tenggelam setelah mendapat penolakan keras dari para anggota Kongres AS.

Mereka yang menolak rencana penutupan kamp Guantanamo itu, tak setuju dengan pemindahan tahanan Guantanamo ke penjara-penjara di wilayah AS. Negara-negara sekutu AS pun enggan menampung para tahanan Guantanamo.

Kelompok-kelompok HAM mengecam keras Obama atas kegagalan penutupan kamp Guantanamo tersebut.

"Presiden Obama kini punya kesempatan kedua untuk memperbaikinya, mengejar tujuan mengagumkan yang dia bikin sendiri," cetus Hina Shamsi, direktur keamanan nasional American Civil Liberties Union (ACLU) kepada AFP, Jumat (9/11/2012).

Organisasi Amnesty International pun mendesak Obama segera bertindak. Jika tidak, para tahanan bisa saja "mati di sana beberapa tahun dari sekarang."

"Sebabnya, tak ada presiden lainnya di masa mendatang yang kemungkinan akan mengulang janji Obama untuk menutup fasilitas itu," kepala Amnesty Amerika Serikat, Suzanne Nossel dalam tulisannya di majalah Foreign Policy.

Banyak analis skeptis bahwa Obama akan mengupayakan penutupan kamp Guantanamo dalam jabatannya selama empat tahun ke depan. "Itu (Guantanamo) bukan lagi isu besar, mereka bisa hidup dengan hal ini," kata analis bernama Karen Greenberg.

(ita/nrl)


Berita Terkait