Pemimpin oposisi Myanmar Aung San Suu Kyi angkat bicara terkait kekerasan sektarian antara warga Buddha dan muslim Rohingya di wilayah Myanmar barat. Suu Kyi mendesak pemerintah Myanmar untuk mengirimkan lebih banyak pasukan ke wilayah konflik tersebut.
Suu Kyi menyerukan penghentian konflik di negara bagian Rakhine yang telah menewaskan sedikitnya 180 orang tersebut.
"Semua orang bertanggung jawab untuk menghormati HAM, tanpa membedakan antara mayoritas dan minoritas, etnis dan agama," cetus peraih Nobel Perdamaian itu dalam statemen seperti dilansir kantor berita AFP, Kamis (8/11/2012).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Meski Suu Kyi tidak menyebut langsung Rohingya, namum pernyataannya ini jelas menyinggung tentang keprihatinan Rohingya.
Kekerasan sektarian di negara bagian Rakhine juga telah menyebabkan sekitar 110 ribu orang, khususnya warga Rohingya, kehilangan tempat tinggal sejak Juni lalu. Rumah-rumah mereka musnah dibakar dalam gelombang kerusuhan di Rakhine.
Sebelumnya, Suu Kyi telah dikecam sejumlah pihak karena tidak mengkritik perlakuan yang diterima minoritas muslim Rohingya di negeri itu.
(ita/nrl)










































