Beberapa jam lagi pemilihan presiden (pilpres) Amerika Serikat dimulai. Ada skenario buruk bagi partai Demokrat. Capres incumbent Barack Obama memenangi suara terbanyak alias popular vote. Namun capres penantang dari partai Republik, Mitt Romney meraih kemenangan Electoral College.
Dalam banyak polling, Romney berada di bawah Obama, meski dengan selisih yang tipis. Namun ada beberapa polling terdahulu yang menunjukkan kemenangan Romney atas Obama, juga dengan selisih poin yang sangat tipis.
Ini artinya, di atas kertas, kedua kandidat punya peluang yang sama besar untuk memenangi pemilu tahun ini. Sejumlah pakar politik seperti dilansir News.com.au, Selasa (6/11/2012) menyebut bahwa hasil pilpres tahun ini sulit diprediksi. Kondisi ini memicu spekulasi akan kemungkinan terulangnya kembali kekalahan tragis partai Demokrat pada tahun 2000 lalu.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Hasil itu belum jelas benar hingga penghitungan ulang di Florida selesai dilakukan. Hasilnya, 25 suara Electoral College dari Florida diberikan kepada Bush yang menang dengan selisih popular vote hanya 537 suara.
Yang menarik, sebelum pilpres 2000 itu, para pengamat politik memprediksi yang sebaliknya. Bahwa Bush mungkin memenangi popular vote namun kalah dari Gore dalam perolehan suara Electoral College.
Kini, beberapa jam sebelum pilpres AS dimulai Selasa, 6 November waktu setempat, polling-polling menunjukkan Obama unggul tipis atas Romney. Namun tetap saja kemungkinan lain bisa terjadi. Mungkin saja Romney memenangi popular vote namun Obama yang akhirnya kembali menduduki Gedung Putih karena perolehan suara Electoral College-nya.
Satu lagi kemungkinan. Perolehan suara Electoral College Obama dan McCain imbang. Dalam kasus itu, anggota-anggota DPR AS-lah yang akan menentukan pemenangnya.
Yah, dalam politik, apapun bisa terjadi!
(ita/nrl)











































