Berikut adalah pendapat masing-masing capres mengenai sejumlah isu sentral dalam pilpres AS, khususnya yang menyangkut kebijakan dalam negeri, seperti yang dikutip dari AFP, Senin (5/11/2012).
1. Ekonomi
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sementara Obama menyatakan tidak ada yang salah dalam kebijakannya untuk mengembalikan ekonomi AS. Dia menyoroti bagaimana dirinya memberikan jaminan bagi industri otomotif, yang pada saat itu terancam kolaps.
Obama juga berjanji akan mengurangi defisit anggaran AS sebesar US$ 4 triliun. Obama juga menginginkan adanya peningkatan pajak hingga 30 persen bagi orang-orang kaya AS yang berpendapatan di atas US$ 1 juta per tahun. Sementara Obama juga berencana menciptakan sejuta lapangan kerja pada industri manufaktur di tahun 2016.
2. Aborsi dan Kontrasepsi
Romney menolak adanya tindakan aborsi. Dia menyetujui pelarangan aborsi kecuali itu merupakan akibat dari tindakan perkosaan, hubungan sedarah, atau kehamilan yang berisiko terhadap keselamatan si ibu. Dia juga ingin menghentikan subsidi untuk Pusat Keluarga Berencana. Dalam kampanyenya, Romney juga mengkritik reformasi layanan kesehatan era Obama, yang memaksa para pengusaha untuk membayar seluruh biaya kontrasepsi bagi para pegawainya.
Dalam isu kesehatan, Obama mendukung dilakukannya aborsi. Dia percaya bahwa pelayanan kesehatan bagi perempuan merupakan pilihan pribadi yang dibuat berdasarkan konsultasi dengan dokter masing-masing, dan tanpa intervensi dari para politisi.
3. Hak-hak Kaum Gay
Capres asal Partai Republik memang dikenal memiliki kebijakan yang sangat konservatif. Salah satunya, Romney menolak adanya perkawinan sesama jenis. Dia juga mendukung usulan amandemen pada UU terkait definisi pernikahan yang seharusnya adalah persatuan antara seorang laki-laki dan perempuan. Dia juga menolak adanya jargon 'Jangan Tanya, Jangan Ceritakan' bagi kaum gay yang bertugas di militer.
Sementara Obama yang dikenal lebih liberal, mengaku dirinya melegalkan pernikahan sesama jenis karena dia yakin dengan keyakinan pribadinya. Bagaimanapun, dia memberikan catatan bahwa legalisasi pernikahan sejenis merupakan urusan tiap-tiap negara bagian.
4. Imigrasi
Romney menyatakan dirinya berharap para imigran ilegal akan 'mendeportasi diri mereka sendiri' keluar AS, jika kondisi kehidupan yang mereka dapatkan di AS tidak layak. Dia mengkritik lamanya proses legislasi di Kongres yang akhirnya bisa memungkinkan adanya pemberian hak bagi imigran gelap. Dia bahkan menuduh Obama tidak melakukan hal yang cukup untuk mencegah mengalirnya imigran gelap masuk ke wilayah AS.
Obama adalah merupakan salah satu pendukung Kongres yang memperlama proses legislasi UU 'Dream Act', yang isinya akan menghentikan deportasi bagi anak-anak imigran gelap. Pada Juni lalu, Obama juga mengumumkan telah memasukkan beberapa aturan baru dalam RUU tersebut. Salah satunya adalah memberikan izin tinggal bagi imigran gelap berusia muda asalkan mereka memenuhi beberapa syarat. Salah satu syarat adalah tidak mempunyai catatan kriminal.
5. Peredaran Senjata di Kalangan Sipil
Romney mendukung adanya amandemen kedua pada Konstitusi AS, yang memungkinkan warga AS berhak untuk memiliki senjata. Dia menolak setiap peraturan federal yang melarang pembelian senjata api. Hal ini mendapat dukungan luas dari organisasi Persatuan Pemilik Senjata Api Nasional.
Sementara Obama, berjanji untuk menghormati amandemen kedua itu, namun mendukung adanya pemeriksaan mendalam terhadap latar belakang pembelian senjata. Dia berharap untuk memperketat penjualan senjata api otomatis di kalangan masyarakat sipil. Senjata api otomatis diketahui sering digunakan untuk melakukan penembakan massal di wilayah AS.
6. Legalisasi Ganja
Ini adalah satu-satunya isu di mana kedua kandidat tidak memiliki perbedaan secara substansi. Romney menolak adanya pelegalan ganja untuk alasan apapun termasuk alasan keperluan medis. Meskipun hal ini telah terjadi di beberapa negara bagian, seperti di California.
Obama pun menolak legalisasi mariyuana dan sejenisnya. Meski begitu Presiden Obama telah memerintahkan para agen polisi federal untuk tidak melakukan tindakan terhadap apotek yang menjual ganja sebagai 'obat'. Namun para manager apotek tersebut mengeluh karena tetap ada tindakan represif yang dilakukan di lapangan.
(riz/ita)











































