Konflik di negara bagian Rakhine, Myanmar barat telah menewaskan lebih dari 150 orang sejak Juni lalu. Puluhan ribu orang pun telah mengungsi akibat pertumpahan darah tersebut.
"Kami meminta negara-negara untuk tetap membuka perbatasan dan memastikan akses aman dan bantuan apapun yang bisa mereka berikan," kata Vivian Tan, juru bicara Asia Pasifik untuk UNHCR.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Belakangan ini jumlah warga Rohingya yang mengungsi ke Malaysia terus meningkat. Pihak UNHCR di Malaysia telah mencatat sekitar 24 ribu warga Rohingya sebagai pengungsi. Namun diperkirakan angka yang sebenarnya jauh lebih dari itu.
Sebabnya, otoritas Malaysia diduga mengizinkan para pengungsi Rohingya masuk ke negeri itu namun menolak memberikan status legal kepada mereka. Padahal status legal ini diperlukan untuk memungkinkan akses pengungsi Rohingya ke layanan kesehatan, pendidikan dan lainnya.
Pemerintah Malaysia pun diimbau untuk lebih siap menerima dan memberikan akses tersebut bagi para pengungsi Rohingya.
"Ini krisis kemanusiaan. Karena itulah solusi regional diperlukan, dan bagian dari solusi itu adalah bahwa semua orang melakukan peran mereka," kata Sharuna Verghis, pendiri organisasi bantuan pengungsi Malaysia, Health Equity Initiative.
"Negara-negara perlu menunjukkan kemurahan dan kepedulian mereka di saat krisis ini," tandasnya.
(ita/nrl)











































