Kondisi umat muslim Rohingya di Myanmar yang terus mendapat tindakan represif dari pemerintah setempat, mengundang keprihatinan dunia internasional. Salah satu keprihatinan itu datang dari Iran. Pemerintah Iran juga meminta agar pemerintah Myanmar memberikan perhatian terhadap penegakan HAM bagi umat muslim Myanmar tersebut.
"Iran adalah salah satu perintis dalam penciptaan perdamaian antar umat beragama. Karena itu kami ingin agar situasi di sana kondusif. Kami siap dengan segala sumber daya yang kami miliki agar perdamaian bisa terjadi antara umat muslim Myanmar dan umat Buddha," ujar Menteri Luar Negeri (Menlu) Iran, Ali Akbar Salehi, seperti dilansir Press TV, Kamis (1/11/2012).
Salehi menambahkan, perdamaian dapat diciptakan dengan menumbuhkan rasa saling mengerti antar satu sama lain. Rasa saling mengerti ini amat penting untuk menghindari adanya bibit permusuhan yang dihembuskan oleh orang-orang yang tak bertanggung jawab.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kekerasan sektarian di Rakhine, Myanmar barat sejauh ini telah menewaskan sekitar 180 orang sejak Juni lalu. Pada bulan Oktober ini, kekerasan tersebut kembali terjadi dan menewaskan 88 orang. Ribuan rumah pun kembali dibakar. Akibatnya, puluhan ribu warga Rohingya kini hidup di kamp-kamp pengungsi yang sudah penuh sesak.
Sekitar 800 ribu warga Rohingya tinggal di Myanmar sejak berabad-abad lalu. Namun oleh pemerintah dan publik Myanmar, mereka terus dianggap sebagai imigran ilegal dari Bangladesh. Akibat diskriminasi yang dialami Rohingya, PBB pun menyebut mereka sebagai salah satu minoritas paling teraniaya di dunia.
(riz/ita)











































