"Daripada mengirimkan semua pasukan ke Suriah, yang tak menghasilkan apapun, lebih baik membela muslim di Myanmar," cetus ulama terkemuka Iran, Grand Ayatollah Naser Makarem Shirazi seperti dilansir Press TV, Kamis (1/11/2012).
"Muslim di Myanmar tengah menderita akibat bencana ganjil," katanya menyinggung kekerasan sektarian antara warga Buddha dan Rohingya di negara bagian Rakhine, Myanmar barat.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Mengapa dunia muslim tidak berteriak atas kejahatan-kejahatan ini? Mengapa OKI tidak mengadakan pertemuan soal ini," tanya ulama senior Iran tersebut.
Shirazi pun mengecam negara-negara Liga Arab karena mengerahkan pasukan ke Suriah untuk membantu para pemberontak serta mendanai oposisi Suriah, namun menutup mata atas pembantaian Rohingya di Myanmar.
Shirazi juga mengecam komunitas internasional yang tidak mengambil tindakan apapun terkait konflik ini. "Jika seorang warga Barat terluka, mereka ribut, sementara begitu banyak rumah muslim Myanmar yang dibakar dan mereka dibantai, namun tak ada yang komplain," ujar Shirazi.
Sekitar 800 ribu jiwa warga minoritas muslim Rohingya diperkirakan berada di Myanmar. Namun meski telah berabad-abad tinggal di negeri itu, oleh pemerintah dan publik Myanmar, mereka tetap dianggap sebagai imigran gelap dari Bangladesh.
Namun pemerintah Bangladesh pun belakangan telah mengusir para pengungsi Rohingya yang kabur ke negaranya. Alasannya, sudah terlalu banyak pengungsi Rohingya di negeri itu. Badan PBB bahkan menyebut Rohingya sebagai salah satu minoritas paling teraniaya di dunia.
(ita/nrl)











































