Menurut data resmi pemerintah setempat, bentrokan yang kembali terjadi pekan ini di Rakhine telah menewaskan 67 orang. Namun HRW khawatir jumlah korban jiwa sebenarnya lebih besar dari angka resmi tersebut berdasarkan keterangan para saksi mata yang berhasil menyelamatkan diri.
Ribuan orang juga telah mengungsi ke kamp-kamp darurat di Sittwe, ibukota Rakhine.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Jika otoritas tidak juga mulai mengatasi akar permasalahan kekerasan itu, keadaan ini kemungkinan akan terus memburuk," kata Phil Robertson, wakil direktur HRW untuk Asia seperti dilansir kantor berita AFP, Sabtu (27/10/2012).
Menurut HRW, pihaknya telah mendapatkan gambar satelit yang memperlihatkan "pengrusakan ekstensif rumah-rumah dan properti lainnya di daerah Kyaukpyu, yang penduduknya didominasi oleh Rohingya.
Sebelumnya pada Juni lalu, rentetan bentrokan antara warga Buddha dan Rohingya di Rakhine telah menewaskan sekitar 90 orang.
Sekitar 800 ribu warga Rohingya tinggal di Myanmar. Meski telah lama berada di negeri itu, pemerintah dan publik Myanmar terus menganggap Rohingya sebagai imigran gelap dari Bangladesh. Sementara oleh pemerintah Bangladesh pun mereka tidak diakui. Badan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pun menganggap Rohingya sebagai salah satu minoritas paling teraniaya di dunia.
(ita/ita)











































