Rosa Miriam (41) bersatu kembali dengan ibunya, Maria Sibrian di kota Santa Emilia, barat daya San Salvador pada Rabu, 24 Oktober waktu setempat. Demikian disampaikan CNB, kantor pemerintah yang mengurusi penyatuan kembali orang-orang yang terpisah selama perang saudara 1979-1992 di El Salvador.
Pada Mei 1980, Miriam tinggal bersama kedua orangtua dan empat saudaranya di sebuah desa di tepi Sungai Sumpul di wilayah Chalatenango di perbatasan dengan Honduras. Saat itu Miriam masih berumur 9 tahun.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Miriam dan keluarganya berhasil meloloskan diri dari pembantaian mengerikan itu. Namun ketika mereka kembali ke desa tersebut usai pembantaian, mereka berpapasan dengan sekelompok tentara yang sedang berpatroli. Tentara-tentara itu kemudian membunuh ayah Miriam.
Ibu Miriam, Sibrian kemudian kabur bersama kelima anaknya. Namun tiga dari lima anak-anak tersebut, termasuk Miriam, terpisah dalam kepanikan saat berlari menyelamatkan diri.
Saat perang saudara itu berakhir pada tahun 1992, Sibrian berhasil menemukan dua anaknya dengan bantuan sebuah kelompok kemanusiaan. Sebuah keluarga kemudian menemukan Miriam dan mengadopsinya. Barulah pada Agustus 2012, Miriam menghubungi CNB dalam upaya menemukan keluarga kandungnya.
Akhirnya Sibrian dan saudara-saudara Miriam dipertemukan dengannya pada awal Oktober lalu. Dalam setahun terakhir ini, CNB telah menyelesaikan 12 kasus anak yang hilang selama perang tersebut. Namun pihak CNB hingga kini masih terus mencari kerabat dari sekitar 100 orang lainnya.
Perang saudara di El Salvador telah menewaskan lebih dari 75 ribu. Sementara sekitar 7 ribu orang lainnya hilang, tak diketahui nasibnya.
(ita/nrl)











































