Pada Minggu, 21 Oktober lalu, polisi Kuwait bentrok dengan para demonstran di Kuwait City. Dalam insiden itu, polisi menggunakan peluru karet dan gas air mata untuk membubarkan massa. Polisi juga memukuli ratusan demonstran.
Menurut oposisi, ini merupakan aksi demo terbesar di Kuwait dalam sejarah negeri tersebut. Oposisi bertekad akan terus menggelar aksi demo sampai pemerintah memenuhi tuntutan mereka atas reformasi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kami meminta semua pihak untuk menahan diri, menyikapi permasalahan mereka secara damai dan dengan cara yang sesuai dengan konstitusi dan aturan hukum Kuwait, termasuk hak-hak universal warga Kuwait untuk berkumpul dengan damai dan mengekspresikan diri mereka," tandas Nuland.
"Kami mendukung, apakah itu di Kuwait atau di tempat lainnya di dunia, soal hak untuk berkumpul dengan damai," imbuh pejabat tinggi Deplu AS tersebut.
Dalam aksinya pada Minggu (21/10/) lalu, para demonstran memprotes keputusan Emir Sheikh Sabah al-Ahmad al-Sabah untuk mengubah aturan pemilu. Emir diminta tidak mengubah undang-undang pemilu hanya untuk mendukung kandidat propemerintah. Unjuk rasa yang dipimpin oleh oposisi Islamis dan nasionalis itu diikuti oleh lebih dari 100 ribu orang.
(ita/nwk)











































