Bahkan menurut polling nasional terbaru yang dirilis oleh NBC News/Wall Street Journal, perolehan suara Obama dan Romney dalam posisi imbang, yakni sama-sama meraih 47 persen. Sedangkan untuk wilayah negara bagian Florida, yang menjadi lokasi debat capres AS terakhir, perolehan suara Obama dan Romney hanya selisih 1 persen. Dalam polling yang dilakukan CNN/ORC International pada 17-18 Oktober lalu, Romney mengungguli Obama dengan perolehan 49 persen melawan 48 persen.
Kemudian menurut polling yang dilakukan Universitas Quinnipiac bekerja sama dengan CBS News di negara bagian Ohio, Obama mengungguli Romney sebanyak 5 persen. Dalam polling yang dirilis Senin (22/10) waktu setempat ini, Obama memperoleh 50 persen dan Romney meraih 45 persen.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Trennya ke arah kami. Antusiasme dan energi yang muncul berada di pihak kami tahun ini. Posisi itulah yang ingin kami capai dalam kampanye," timpal Senator Republik Rob Portman, yang juga pelatih debat Romney, dalam acara yang sama.
Hasil polling imbang yang diperoleh kedua kandidat, menjadi bukti bahwa untuk pertama kalinya dalam tahun ini, Obama tidak menang mutlak atas rivalnya itu. Meskipun tidak bisa dipungkiri bahwa polling NBC News/Wall Street Journal yang dilakukan terhadap 816 orang koresponden ini tetap memiliki margin error sekitar 3,4 persen.
Namun hal ini tetap menjadi berita bagus bagi Romney. Sebabnya ini menunjukkan bahwa kekalahan telaknya dalam debat kedua yang digelar 16 Oktober lalu, ternyata tidak berpengaruh pada perolehan suara dukungan untuknya.
Menanggapi hal ini, Axelrod menyatakan tim kampanye Obama tetap percaya diri dengan posisinya. Terlebih sejumlah pendukung Partai Demokrat telah menggunakan hak suaranya dalam pemilu awal mulai 22 Oktober hingga 2 November mendatang. Ada 6 dari 9 negara bagian yang menggelar pemilu awal, yakni Colorado, Iowa, Nevada, North Carolina, Ohio dan Wisconsin.
"Kami imbang atau seringkali memimpin perolehan suara di negara-negara bagian tersebut. Jika Anda memperhatikan pemilu awal yang telah dilakukan di negara-negara bagian tersebut, terlihat bagaimana strategisnya itu dan sangat bermanfaat bagi kami. Dan kami melihatnya sebagai indikator yang lebih baik daripada jajak pendapat publik, yang terus terang lebih meluas," jelas Axelrod.
(nvc/ita)











































