"Pemerintah harus mundur dan kami menyerukan agar Perdana Menteri Najib Mikati segera mengundurkan diri," tegas Sekretaris Jenderal Future Movement, Ahmad Hariri, seperti dilansir AFP, Sabtu (20/10/2012).
Future Movement merupakan kelompok oposisi di Libanon yang didominasi penganut Sunni. Diketahui bahwa Kepala Intelijen Tentara Keamanan Libanon, Jenderal Wissam al-Hassan yang tewas dalam serangan tersebut merupakan kerabat dekat putra Hariri, Saad. Saad sendiri dikenal sebagai pemimpin oposisi di Libanon dan sangat memusuhi rezim Presiden Bashar al-Assad di Suriah.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sementara itu di ibukota Tripoli, Suriah, sejumlah warga penganut Sunni menggelar unjuk rasa dengan membakar ban dan memblokir jalanan dekat wilayah perbatasan Suriah. Hal ini mereka lakukan setelah mengetahui Jenderal Hassan yang penganut Sunni tewas dalam serangan bom di Beirut, Libanon.
Pada Jumat (19/10) waktu setempat, ledakan dahsyat di terjadi Beirut, tepatnya di Lapangan Sassine, distrik Ashrafiyeh yang mayoritas penduduknya beragama Kristen. Lokasi terjadinya ledakan hanya berjarak 200 meter dari markas partai Kristen setempat, Phalange, yang juga dikenal anti-Suriah. Ledakan ini tercatat sebagai yang terburuk di ibu kota Libanon selama tahun-tahun terakhir. Sebanyak 8 orang, termasuk Kepala Intelijen Tentara Keamanan Libanon, Jenderal Wissam al-Hassan, tewas dalam ledakan ini. Sedangkan sekitar 86 orang lainnya luka-luka.
Serangan ini mendapat kecaman dari dunia internasional, mulai dari PBB, Uni Eropa, Amerika Serikat, Inggris, Prancis, hingga Iran. Dalam pernyataannya, Sekjen PBB Ban Ki-Moon mengimbau rakyat Libanon untuk tidak terprovokasi aksi terorisme yang keji ini.
(nvc/fdn)











































