Turki Kecam PBB Soal Suriah, Pembantaian Bosnia Bisa Terulang

Turki Kecam PBB Soal Suriah, Pembantaian Bosnia Bisa Terulang

Rita Uli Hutapea - detikNews
Senin, 15 Okt 2012 12:08 WIB
Turki Kecam PBB Soal Suriah, Pembantaian Bosnia Bisa Terulang
Foto: AFP
Istanbul, - Konflik Suriah telah berlangsung selama sekitar 20 bulan. Perdana Menteri (PM) Turki Tayyip Erdogan melancarkan kritikan keras terhadap badan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), yang tidak mengambil tindakan apapun atas pertumpahan darah yang terus terjadi di Suriah.

Diingatkan Erdogan, PBB dan komunitas internasional tengah mengulangi kesalahan yang dilakukan di Bosnia pada tahun 1990-an silam.

"Dewan Keamanan PBB belum mengintervensi dalam tragedi kemanusiaan yang terus berlangsung di Suriah selama 20 bulan, meskipun semua upaya telah kita lakukan," kata Erdogan seperti dilansir kantor berita Reuters, Senin (15/10/2012).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Ada sikap yang mendorong, memberikan lampu hijau bagi Assad (Presiden Suriah Bashar al-Assad -red) untuk membunuh puluhan atau ratusan rakyat setiap hari," imbuh Erdogan dalam konferensi pers internasional di Istanbul, Turki yang dihadiri para pemimpin termasuk Sekjen Liga Arab Nabil Elaraby.

Diingatkan Erdogan, semakin lama dunia tidak mengintervensi Suriah, semakin besar risiko kekejaman terjadi seperti saat krisis Bosnia. Erdogan pun menyinggung China dan Rusia, yang selaku negara anggota Dewan Keamanan PBB, terus menggunakan hak veto mereka untuk menggagalkan resolusi guna menghentikan kekerasan di Suriah. Menurut Erdogan, hal tersebut telah membuat PBB tak berdaya.

"Sangat menyedihkan karena PBB saat ini tak berdaya seperti 20 tahun silam saat PBB menyaksikan pembantaian ratusan ribu orang di Balkan, Bosnia dan Srebrenica," cetus Erdogan.

Erdogan mencetuskan, Dewan Keamanan PBB perlu direformasi karena tidak mewakili keinginan komunitas internasional. "Jika kita harus menunggu satu atau dua anggota tetap tersebut... maka masa depan Suriah akan dalam bahaya," pungkas pemimpin Turki itu.

(ita/nrl)


Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini