Pada Minggu, 14 Oktober waktu setempat, serangan udara Israel menargetkan Hisham Saidani, pria berumur 47 tahun yang merupakan warga kamp pengungsi Bureij di Gaza. Oleh militer Israel, Israeli Defence Force (IDF), pria itu disebut sebagai salah satu pendiri organisasi teroris Dewan Hashura Mujahiddin.
Menurut IDF, Saidani tengah merencanakan serangan yang akan dilakukan di sepanjang perbatasan Sinai. Disebut IDF, Dewan Hashura Mujahiddin -- beroperasi di bawah naungan "Global Jihad" -- terlibat dalam aktivitas teror terhadap warga sipil Israel dan tentara-tentara IDF.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Korban tewas kedua, juga disebut Israel sebagai militan. Pria lainnya juga disebut Israel sebagai "aktivis Salafi", tewas dalam serangan Angkatan Udara Israel di Jabalya. Serangan itu juga melukai seorang anak laki-laki berumur 12 tahun. Sementara serangan ketiga Israel di hari yang sama menewaskan Izz Addin Abu Nusiera (23) dan Ahmad Abu Fatayir (22).
Sebagai balasan, para militan Gaza melepaskan roket-roket ke daerah Eshkol yang meledak di tanah terbuka dan tidak menimbulkan korban maupun kerusakan. Eskalasi ketegangan Timur Tengah ini terjadi sejak 7 Oktober lalu, ketika militer Israel melancarkan serangan udara yang menargetkan Abd-Allah Hassan Mikawy (24) dan Tal'at Khalil Al-Darbi (23).
Dalam serangan itu, Hassan tewas akibat luka-lukanya yang parah. Sementara satu kaki Al-Darbi harus diamputasi dan hingga saat ini dia masih dalam kondisi kritis di Rumah Sakit Nasser di Khan Younis.
(ita/nrl)











































