Ribuan Biksu Gelar Aksi Protes di Myanmar Untuk Menentang OKI

Ribuan Biksu Gelar Aksi Protes di Myanmar Untuk Menentang OKI

- detikNews
Jumat, 12 Okt 2012 17:58 WIB
Ribuan Biksu Gelar Aksi Protes di Myanmar Untuk Menentang OKI
Para biksu gelar aksi protes di Myanmar (Reuters)
Yangon, -

Ribuan biksu di Myanmar turun ke jalan untuk memprotes keberadaan Organisasi Konferensi Islam (OKI) di negara tersebut. Mereka menolak rencana OKI membuka kantor cabang di Myanmar guna membantu umat muslim Rohingya yang tinggal di wilayah Rakhine.

Para biksu tersebut berkumpul di kawasan Mandalay, yang merupakan kota terbesar kedua di Myanmar, sembari membawa poster yang bertuliskan "No OIC in Myanmar". Mereka mendesak pemerintah untuk membatalkan rencana 57 negara anggota OKI untuk membuka kantor operasional di Myanmar.

"Kami tidak bisa menerima kehadiran OKI di sini. Kami akan terus melanjutkan aksi protes kami sampai mereka menyerah," ujar salah satu pemimpin unjuk rasa, Thaw Bi Ta, kepada AFP, Jumat (12/10/2012).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"OKI tidak bekerja untuk hak-hak asasi manusia, melainkan untuk hak-hak umat muslim saja. Kami memiliki kecurigaan terhadap mereka. Mereka tidak pernah menolak keberadaan ekstremis muslim. Kami menginginkan perdamaian antar seluruh agama dan etnis. Kami tidak ada masalah dengan keberadaan muslim di negara ini," imbuhnya.

Ketegangan sektarian antara umat Buddha dan muslim Rohingya di Myanmar masih berlangsung sejak terjadi bentrokan berdarah pada Juni lalu di wilayah Rakhine. Akibat bentrokan tersebut, puluhan orang meninggal dan puluhan ribu orang lainnya terpaksa mengungsi dari rumah masing-masing.

Aksi protes ini merupakan bagian dari serangkaian protes menentang keberadaan OKI dan sekitar 800 ribu warga muslim Rohingya, yang disebut PBB sebagai kaum minoritas paling teraniaya di dunia. Aksi protes yang digelar di Mandalay ini merupakan yang kedua kalinya dalam beberapa minggu terakhir.

Para biksu yang ikut serta dalam aksi protes ini bahkan berencana untuk menggelar unjuk rasa nasional pada Minggu (14/10) besok, jika pemerintah tidak merespons tuntutan mereka.

(/)


Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini