Dalam debat cawapres yang digelar di Kentucky tersebut, Biden bersumpah kesalahan apapun yang dilakukan soal keamanan terkait penyerangan ke konsulat AS di Benghazi, Libya, tak akan terulang lagi.
"Kami akan menemukan dan mengadili orang-orang yang melakukan ini. Kesalahan apapun yang terjadi, tak akan terulang lagi," tegas Biden seraya menekankan ketegasan kepemimpinan Presiden Barack Obama.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ryan balik melancarkan serangan atas kebijakan luar negeri Obama yang lemah. Anggota kongres dari Wisconsin itu mengkritik pengamanan yang diberikan kepada Dubes AS Chris Stevens yang tewas dalam serangan di Benghazi.
Dikatakannya, Dubes AS untuk Prancis mendapatkan pengamanan oleh detasemen Marinir, sementara Stevens yang berada di wilayah konflik, tidak.
"Ketika kita kelihatan lemah, musuh-musuh kita akan semakin ingin menguji kita," kata pria berumur 42 tahun itu.
Menurut Ryan, peristiwa di Benghazi bukan hanya tragedi namun menunjukkan masalah yang lebih luas, yakni lemahnya kebijakan luar negeri Obama. Dicetuskan Ryan, lemahnya kebijakan Obama telah membuat keadaan lebih kacau dan warga AS kurang aman.
Kata-kata Ryan itu langsung dibalas Biden. "Dengan segala hormat, itu omong kosong," cetus Biden. "Apa yang diucapkannya tidak akurat," imbuhnya.
Debat cawapres ini dibuka dengan argumen tentang keamanan nasional, kebijakan ekonomi, pajak dan asuransi kesehatan. Keduanya juga berdebat tentang Iran dan hubungan AS dengan Israel.
(ita/nrl)











































