Lawan Pendudukan China, Pria Tibet Bakar Diri Hingga Tewas

Lawan Pendudukan China, Pria Tibet Bakar Diri Hingga Tewas

- detikNews
Sabtu, 06 Okt 2012 13:30 WIB
Lawan Pendudukan China, Pria Tibet Bakar Diri Hingga Tewas
Ilustrasi
Beijing, - Lagi-lagi, aksi bakar diri terjadi di wilayah Tibet. Seorang pria yang dikenal sebagai penulis yang kerap menyerukan protes terhadap pendudukan pemerintah China atas Tibet ini tewas dalam aksinya tersebut.

Disampaikan oleh The International Campaign for Tibet, pria bernama Gudrub (42) tersebut berulang kali menyuarakan kebebasan bagi warga Tibet dari otoritas China. Dia juga menyerukan kembalinya tokoh spiritual Tibet Dalai Lama yang diasingkan keluar Tibet.

Gudrub nekat membakar dirinya sendiri di wilayah Nagchu, pada Kamis (4/10) lalu. Pria berusia 42 tahun ini dinyatakan meninggal dunia saat dibawa ke rumah sakit terdekat oleh otoritas setempat.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Belum ada tanggapan dari otoritas setempat terkait insiden ini. Demikian seperti dilansir AFP, Sabtu (6/10/2012).

Aksi serupa marak terjadi di wilayah Tibet sejak Februari 2009. Tercatat hingga saat ini 53 orang melakukan aksi bakar diri di Tibet. Sebelum Gudrub, seorang pemuda Tibet bernama Yangdang melakukan aski bakar diri di wilayah Dzato, pada 29 September lalu.

"Warga Tibet yang peduli dengan kesejahteraan sesamanya dengan sewenang-wenang ditangkap dan dianiaya. Warga Tibet yang menolak untuk mengecam Dalai Lama atau menerima pendudukan China atas Tibet akan dibunuh secara diam-diam atau dihilangkan," tutur Gudrub dalam artikel yang ditulisnya awal tahun ini.

Sebagai dampaknya, tambah Gudrub, warga Tibet pun memilih "melakukan gerakan non-kekerasan dan menyatakan realita di Tibet dengan membakar diri kami sedniri untuk menyerukan kebebasan di Tibet."

Aksi protes menentang pemerintah China dimulai di wilayah Lhasa pada tahun 2008 lalu. Beberapa waktu kemudian, aksi protes tersebut meluas ke wilayah Tibet lainnya. Menghadapi aksi protes ini, pemerintah China menempatkan militernya untuk menjaga keamanan. Bahkan pada Juli lalu, pemerintah China menyerukan agar otoritas setempat dan penjaga keamanan meningkatkan perlawanan terhadap gerakan separatis yang muncul di Tibet.

Warga Tibet sendiri merasa terkekang dengan kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintah China. Menurut mereka, pemerintah China telah membatasi kebebasan beragama dan juga budaya mereka. Namun pemerintah China bersikeras bahwa warga Tibet bebas menjalankan agamanya dan banyak mendapat keuntungan dengan adanya ekspansi ekonomi China di wilayah tersebut.

(nvc/ndr)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads