Anak-anak Suriah Kini Terbiasa dengan Pertumpahan Darah

Anak-anak Suriah Kini Terbiasa dengan Pertumpahan Darah

Novi Christiastuti - detikNews
Jumat, 28 Sep 2012 15:51 WIB
Anak-anak Suriah Kini Terbiasa dengan Pertumpahan Darah
Ilustrasi
Damaskus, - Bentrokan dan aksi kekerasan yang terus terjadi di Suriah tentu menjadi momok tersendiri bagi anak-anak setempat. Namun anak-anak yang tinggal bersama keluarga mereka di wilayah Aleppo lama-kelamaan menjadi terbiasa dengan adanya pertumpahan darah, hampir setiap hari.

"Apa saya takut? Tidak. Sekarang saya terbiasa dengan kondisi itu," tutur Ahmed yang berusia 12 tahun menanggapi aksi kekerasan yang terjadi di lingkungan tempat tinggalnya, seperti dilansir AFP, Jumat (28/9/2012).

Dengan lincah, Ahmed bermain bola di jalanan dekat rumahnya. Padahal hanya beberapa ratus meter dari wilayah tersebut, terdapat kota Saif al-Dawla yang menjadi lokasi pertempuran ganas antara tentara pemerintah Suriah dengan kelompok pemberontak.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ahmed tinggal bersama adik laki-lakinya, 2 saudara perempuan dan orangtuanya di rumah kakeknya di Aleppo. Keluarga Ahmed terpaksa meninggalkan rumah mereka di distrik Salhine yang hancur akibat serangan udara tentara Suriah. Namun nada bicara Ahmed berubah ketika dia menceritakan serangan udara pada Senin (24/9) lalu yang menghancurkan dua rumah warga di distrik Maadi.

Kelompok pemantau HAM Suriah, Syrian Observatory for Human Rights menyebutkan, serangan itu menewaskan 5 warga sipil yang merupakan satu keluarga.

"Bibi saya meninggal, bersama dengan 2 anak perempuannya. Mereka menyerang rumahnya hingga hancur. Paman saya berhasil selamat, tapi tubuhnya penuh luka," ujar Ahmed dengan lesu.

Di rumah lainnya, duduk 2 anak bernama Shahad (8) dan Aya (7), serta adik mereka Hammond (3) yang asyik memberikan remah-remah roti ke seekor anak kucing. Ketiga anak ini pun menuturkan kisah mereka tinggal di tengah-tengah konflik.

"Suatu malam ketika kami tidur, ibu dan ayah membangunkan kami karena ada bom. Memang awalnya kami ketakutan, tapi sekarang semuanya berbeda," cerita Aya.

Jika Aya terbiasa mendengar suara senjata dan ledakan di sekitarnya, tidak demikian dengan sang kakak Shahad. "Di televisi saya melihat mayat-mayat tergeletak di tanah. Setiap ada bom, kami pergi bersembunyi, kami pergi ke ruang bawah tanah atau ke masjid karena semua orang sekarat," tuturnya sembari menunjukkan wajah ketakutan.

Ketika bunyi senapan membahana di wilayah tersebut, mereka bergegas masuk ke dalam persembunyian setelah menutup gerbang besi di dalam rumah mereka. Namun sayangnya di Aleppo, tidak seorangpun benar-benar aman dan gerbang besi tersebut hanya memberikan sedikit perlindungan. Ruang keluarga yang biasanya menjadi tempat mereka menghabiskan waktu bersama, menjadi sasaran empuk roket-roket dan peluru tentara pemerintah.

Penghitungan Syrian Observatory for Human Rights mencatat konflik Suriah telah menewaskan 30 ribu orang. Dari jumlah tersebut, tercatat ada 2 ribu anak-anak yang ikut menjadi korban dalam konflik yang berlangsung sejak Maret 2011 ini.

(nvc/ita)


Berita Terkait