Saat berpidato dalam pertemuan tingkat tinggi khusus membahas krisis di kawasan Sahel, Afrika Barat, Hillary memperingatkan bahwa wilayah gurun yang luas bisa menjadi persembunyian dan memfasilitasi pergerakan kelompok militan dalam merencanakan serangannya. Terlebih wilayah tersebut tak memiliki hukum sehingga mudah untuk menciptakan instabilitas.
"Untuk beberapa waktu, Al-Qaeda in the Islamic Maghreb (AQIM) dan kelompok militan lainnya telah melancarkan serangan dan melakukan penculikan mulai dari wilayah utara Mali hingga ke negara-negara tetangganya. Sekarang dengan persembunyian yang lebih besar dan meningkatnya kebebasan untuk bermanuver, para teroris berusaha memperluas jangkauan dan jaringannya ke berbagai arah," tutur Hillary seperti dilansir Asia One, Kamis (27/9/2012).
"Dan mereka bekerja sama dengan para ekstremis lainnya untuk melemahkan transisi demokrasi yang sedang berlangsung di kawasan Afrika Utara, seperti yang kita lihat secara tragis di Benghazi," imbuhnya dalam pertemuan yang diselenggarakan oleh Sekjen PBB Ban Ki-Moon ini.
Pernyataan Hillary tersebut, dinilai oleh sejumlah pihak dan media, secara eksplisit telah menyebut keterlibatan militan Al-Qaeda dalam serangan teroris di Konsulat AS di Benghazi yang menewaskan Dubes Stevens dan 3 pejabat AS lainnya.
Menanggapi hal tersebut, pihak Kementerian Luar Negeri AS enggan berkomentar banyak. Menurut seorang pejabat senior Kemenlu AS, Hillary memang menyadari bahwa serangan tersebut merupakan serangan teroris namun membantah bahwa pernyataan Hillary tersebut ditujukan bagi Al-Qaeda.
"Jangan berspekulasi lebih dalam soal pernyataan Menlu, daripada apa yang sebenarnya dia katakan. Yang dia sampaikan adalah Al-Qaeda in the Maghreb telah bekerja sama dengan kelompk ekstremis lainnya dalam melemahkan transisi demokrasi yang berlangsung di Afrika. Ini kan hal yang sudah kita ketahui. Hal yang sudah sering kita saksikan," tutur pejabat senior yang enggan disebut namanya tersebut.
Proses penyelidikan yang dilakukan oleh aparat Libya dan pihak AS yang diwakili FBI ini masih berlanjut. "Berkaitan dengan isu-isu spesifik soal siapa yang bertanggungjawab dalam serangan Benghazi, seperti telah disampaikan sebelumnya, kita tidak bisa menyimpulkan terlalu dini hingga benar-benar ada hasil akhir investigasi FBI," tandasnya.
(nvc/ita)











































