Para menteri Arab bertemu dengan utusan PBB-Liga Arab untuk Suriah, Lakhdar Brahimi di sela-sela Sidang Umum PBB di New York, Amerika Serikat. Usai pertemuan itu, Presiden Tunisia Moncef Marzouki mengatakan, negaranya bisa mendukung rencana untuk mengerahkan pasukan perdamaian Arab di Suriah. Namun sejumlah negara Arab lainnya ragu akan hal tersebut.
"Operasi menjaga perdamaian oleh negara-negara Arab adalah satu hal yang bisa kami terima," kata Marzouki kepada kantor berita AFP, Kamis (27/9/2012).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pada Selasa, 25 September lalu, Emir Qatar Sheikh Hamad bin Khalifa Al-Thani meminta adanya intervensi Arab di Suriah. Hal tersebut disampaikannya dalam Sidang Umum PBB. Namun tidak dijelaskan lebih rinci sejauh mana intervensi tersebut.
Namun Sekjen Liga Arab Nabil al-Arabi mengatakan kepada para wartawan, dirinya tidak yakin bahwa yang dimaksud Emir Qatar adalah pasukan tempur.
Konflik di Suriah telah berlangsung selama 18 bulan. Hingga kini belum ada tanda-tanda konflik tersebut akan berakhir. Rusia dan China selaku negara anggota tetap Dewan Keamanan PBB telah tiga kali memveto atau menggagalkan resolusi Dewan Keamanan PBB mengenai kecaman terhadap rezim Presiden Bashar al-Assad.
Atas hal ini, Menteri Luar Negeri AS Hillary Clinton pun menyerukan DK PBB yang "lumpuh" untuk membuat upaya baru guna mencapai kesepakatan mengenai langkah-langkah terkait konflik Suriah.
"Kekejaman meningkat semenantara Dewan Keamanan tetap lumpuh dan saya ingin menyerukan agar kita mencoba lagi untuk menemukan jalan ke depan," tegas Hillary.
Sementera Menlu Prancis Laurent Fabius mencetuskan, sangat mengagetkan karena DK PBB tidak juga bisa bertindak dalam konflik yang telah berlangsung 18 bulan itu.
(ita/nrl)











































