Arab Pertimbangkan Intervensi Militer di Suriah

Arab Pertimbangkan Intervensi Militer di Suriah

- detikNews
Kamis, 27 Sep 2012 10:01 WIB
Arab Pertimbangkan Intervensi Militer di Suriah
Foto: AFP
New York, - Para menteri Arab tengah mempertimbangkan kemungkinan intervensi militer Arab untuk menyelesaikan konflik Suriah. Sementara negara-negara Barat mendesak Rusia dan China untuk berhenti menentang aksi internasional atas rezim Suriah.

Para menteri Arab bertemu dengan utusan PBB-Liga Arab untuk Suriah, Lakhdar Brahimi di sela-sela Sidang Umum PBB di New York, Amerika Serikat. Usai pertemuan itu, Presiden Tunisia Moncef Marzouki mengatakan, negaranya bisa mendukung rencana untuk mengerahkan pasukan perdamaian Arab di Suriah. Namun sejumlah negara Arab lainnya ragu akan hal tersebut.

"Operasi menjaga perdamaian oleh negara-negara Arab adalah satu hal yang bisa kami terima," kata Marzouki kepada kantor berita AFP, Kamis (27/9/2012).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Kami benar-benar telah mendorong solusi damai, namun jika memang perlu adanya pasukan perdamaian Arab, ya kami setuju," imbuhnya.

Pada Selasa, 25 September lalu, Emir Qatar Sheikh Hamad bin Khalifa Al-Thani meminta adanya intervensi Arab di Suriah. Hal tersebut disampaikannya dalam Sidang Umum PBB. Namun tidak dijelaskan lebih rinci sejauh mana intervensi tersebut.

Namun Sekjen Liga Arab Nabil al-Arabi mengatakan kepada para wartawan, dirinya tidak yakin bahwa yang dimaksud Emir Qatar adalah pasukan tempur.

Konflik di Suriah telah berlangsung selama 18 bulan. Hingga kini belum ada tanda-tanda konflik tersebut akan berakhir. Rusia dan China selaku negara anggota tetap Dewan Keamanan PBB telah tiga kali memveto atau menggagalkan resolusi Dewan Keamanan PBB mengenai kecaman terhadap rezim Presiden Bashar al-Assad.

Atas hal ini, Menteri Luar Negeri AS Hillary Clinton pun menyerukan DK PBB yang "lumpuh" untuk membuat upaya baru guna mencapai kesepakatan mengenai langkah-langkah terkait konflik Suriah.

"Kekejaman meningkat semenantara Dewan Keamanan tetap lumpuh dan saya ingin menyerukan agar kita mencoba lagi untuk menemukan jalan ke depan," tegas Hillary.

Sementera Menlu Prancis Laurent Fabius mencetuskan, sangat mengagetkan karena DK PBB tidak juga bisa bertindak dalam konflik yang telah berlangsung 18 bulan itu.

(ita/nrl)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads