Dalam wawancaranya dengan NBC News, Presiden Megaryef mengatakan, para pelaku menyerang dengan menggunakan roket dan mortar dalam tingkat akurasi yang tinggi. Menurutnya, serangan tersebut telah direncanakan sebelumnya dan dilakukan oleh para militan yang berpengalaman.
Ketika ditanya apakah film kontroversial 'Innocence of Muslims' ada kaitannya dengan serangan tersebut, Megaryef menjawab: "Tidak terkait serangan ini."
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Serangan ke gedung Konsulat AS di Benghazi menewaskan Stevens dan 4 staf diplomatik lainnya. Awalnya serangan ini disebut-sebut terkait dengan film 'Innocence of Muslims' yang telah merendahkan Islam dan Nabi Muhhamad. Namun belakangan diyakini bahwa serangan ini merupakan serangan teroris yang memanfaatkan momentum yang ada.
Megaryef menerangkan, sebelum serangan terjadi sama sekali tidak ada demonstran yang menggeruduk kantor Konsulat AS di Benghazi tersebut. Para demonstran datang dalam dua gelombang yang berbeda, pada saat itu para militan menembakkan roket dan mortar ke arah Konsulat AS.
"Ini adalah akti terorisme yang telah direncanakan sebelumnya," tuturnya sembari menegaskan bahwa film kontroversial tersebut 'tidak berkaitan dengan serangan ini'.
Saat ini, pemerintah Libya tengah menyelidiki secara menyeluruh insiden berdarah tersebut. Dengan bantuan pemerintah AS, mereka berniat menyeret para pelaku pembunuhan Dubes Stevens ke pengadilan untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya.
(nvc/ita)











































