"Kami menyambut baik langkah AS untuk mengadili para Marinir tersebut. Kami ingin semua pihak yang terlibat aksi melanggar hukum ini dibawa ke pengadilan," ujar juru bicara Kementerian Pertahanan Afghanistan, Jenderal Zahir Azimi kepada AFP, Selasa (25/9/2012).
Hari ini, Pentagon mengumumkan keputusannya untuk menyeret 2 Marinir AS, yakni Staff Sergeants Joseph Chamblin dan Edward Deptola ke pengadilan militer setempat. Keduanya dijerat dakwaan "pelanggaran terhadap Kode Etik Militer AS dengan mengencingi mayat-mayat militan Taliban dan berfoto dengan mayat."
Selain itu, mereka juga didakwa telah melalaikan tugasnya dengan memberikan perintah sewenang-wenang dan tak bertanggungjawab terhadap sejumlah tentara yunior. Namun tidak dijelaskan perintah apa yang dimaksud.
Secara terpisah, kelompok militan Taliban ikut berkomentar soal hal ini. Juru bicara Taliban Zabiullah Mujahid malah meragukan sikap AS yang akhirnya memutuskan mengadili tentaranya sendiri.
"Itu hanya langkah simbolis untuk menarik perhatian media. Tentara-tentara ini merupakan penjahat perang dan harus dihukum berat. Mereka bukan sekadar melakukan kesalahan, itu merupakan kejahatan yang disengaja," tutur Zabiullah Mujahid melalui telepon kepada AFP dari suatu lokasi yang dirahasiakan.
Sekadar mengingatkan, kasus yang menjerat para Marinir AS tersebut mencuat pada 27 Juli 2011 lalu ketika muncul rekaman video yang menunjukkan 4 personel Marinir AS tengah mengencingi 3 mayat militan Taliban dan seorang tentara lagi mengejek salah satu mayat tersebut. Video yang membuat heboh pengguna internet tersebut, menuai banyak kritikan dan protes dari dunia internasional karena dianggap tak senonoh.
Insiden ini menuai kecaman dari Menteri Pertahanan AS Leon Panentta yang menginstruksikan dilakukannya penyelidikan khusus. Diketahui, ada 4 personel Marinir AS dari unit penembak jitu dari Batalion 3 Marinir Kedua yang bermarkas di kamp Lejeune, North Carolina yang terlibat insiden pengencingan ini. Personel dari unit tersebut dikirimkan untuk bertugas di Helmand, Afghanistan pada Maret-September 2011 lalu.
(nvc/ita)











































