"Kita semua harus berdiri bersama untuk melawan kekuatan-kekuatan ini dan mendukung transisi demokrasi yang terjadi di wilayah Afrika Utara dan Timur Tengah. Persatuan komunitas internasional sangatlah penting karena para ekstremis di dunia tengah berupaya keras untuk memecah-belah kita," ujar Hillary seperti dilansir AFP, Selasa (25/9/2012).
Hal disampaikannya dalam pertemuan Clinton Global Initiative, yayasan yang didirikan oleh suaminya, mantan Presiden AS Bill Clinton. Dalam kesempatan ini, mantan ibu negara AS itu memuji rakyat Libya di Benghazi yang berani melawan para militan bersenjata di wilayah tersebut.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pada Senin (24/9) lalu, Hillary bertemu dengan sejumlah pemimpin dari negara-negara Islam, mulai dari Libya, Pakistan, Afghanistan hingga Mesir. Untuk pertama kalinya, Hillary bertemu dengan pemimpin Libya yang baru Mohamed al-Megaryef.
Dalam pertemuan yang digelar di sebuah hotel di New York, AS, Presiden Megaryef berjanji kepada Hillary, negaranya tidak akan lagi menjadi beban dunia internasional. Hillary pun menjanjikan bahwa AS akan selalu mendukung Libya dalam mengembangkan sistem demokrasi di negaranya.
Kemudian, Hillary juga bertemu dengan Presiden Pakistan Asif Ali Zardari dan berterima kasih atas respons pemerintahannya dalam menghalau unjuk rasa anti-Amerika beberapa hari lalu.
Lalu Hillary juga bertemu dengan Presiden Afghanistan Hamid Karzai pada hari yang sama. Dalam pertemuan yang berlangsung selama 1 jam tersebut, keduanya membahas soal kerjasama bilateral dalam sektor keamanan, mengingat seluruh tentara AS akan meninggalkan wilayah Afghan pada akhir tahun 2014 mendatang. Selain itu, Hillary juga bertemu dengan Presiden baru Mesir Mohamed Morsi.
(nvc/ita)











































