Namun editor majalah yang mengaku bernama Charb, membantah dirinya sengaja memprovokasi di saat keruh.
"Kebebasan pers, apakah itu provokasi?" cetus pria yang dulunya merupakan kartunis tersebut seperti dilansir AFP, Rabu (19/9/2012).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sebelumnya, badan perwakilan utama komunitas muslim Prancis, Dewan Muslim Prancis juga mengimbau masyarakat muslim untuk tetap tenang dalam menghadapi "aksi baru Islamaphobia ini".
Perdana Menteri (PM) Prancis Jean-Marc Ayrault mengatakan, siapapun yang merasa tersinggung dengan kartun tersebut bisa membawa kasus ini ke pengadilan. Namun Ayrault menekankan adanya kebebasan berekspresi di Prancis.
"Kita ada di negara yang kebebasan berekspresi dijamin, termasuk kebebasan karikatur," kata Ayrault di radio RTL.
"Jika orang-orang merasa dihina keyakinan mereka dan menganggap ada pelanggaran hukum -- dan kita ada di negara di mana hukum benar-benar dihormati -- mereka bisa pergi ke pengadilan," tandas PM Prancis itu.
Majalah Charlie Hebdo sudah tak asing lagi dengan kontroversi. Pada tahun 2011 lalu, kantor majalah mingguan itu dibom karena mempublikasikan edisi tentang pergolakan politik di sejumlah negara Arab dengan memajang gambar Nabi Muhammad di sampul.
Sebelumnya pada tahun 2005, kartun Nabi Muhammad juga pernah dipasang di sebuah media cetak di Denmark dan dipublikasikan ke seluruh Eropa. Akibatnya, gelombang protes besar pun merebak di Timur Tengah dan Afrika.
(ita/nrl)











































