Hal tersebut disampaikan mantan kepala persenjataan kimia Suriah, Mayjen Adnan Sillu dalam wawancara dengan surat kabar The Times seperti dilansir kantor berita AFP, Rabu (19/9/2012).
Dikatakan Sillu, dirinya membelot dari militer Suriah tiga bulan lalu setelah ikut serta dalam pertemuan tingkat tinggi mengenai penggunaan senjata kimia terhadap para pejuang pemberontak dan warga sipil.
"Kami dalam pembahasan serius mengenai penggunaan senjata kimia, termasuk bagaimana kami akan menggunakannya dan di daerah-daerah mana," ujar Sillu mengenai pertemuan yang digelar di pusat senjata kimia Suriah di sebelah selatan Damaskus, ibukota Suriah.
"Kami membahas ini sebagai upaya terakhir -- misalnya jika rezim kehilangan kendali atas daerah penting seperti Aleppo," imbuhnya.
Berbicara dari Turki, Sillu mengatakan pada The Times, dirinya yakin bahwa rezim Presiden Bashar al-Assad pada akhirnya akan menggunakan senjata kimia terhadap warga sipil. Dikatakannya, pembahasan mengenai penggunaan senjata kimia itu merupakan pemicu pembelotan dirinya dari militer Suriah.
Diungkapkan Sillu, para pejabat pasukan elit Garda Revolusioner Iran, juga hadir dalam berbagai pertemuan untuk membahas penggunaan senjata kimia itu.
"Mereka selalu datang untuk berkunjung dan memberi saran. Mereka selalu mendatangkan para ilmuwan untuk kami dan mengirimkan ilmuwan-ilmuwan kami ke sana. Mereka juga terlibat dalam sisi politik tentang bagaimana menggunakan senjata kimia," papar Sillu.
Sebelumnya, media Jerman melaporkan bahwa militer Suriah telah menguji coba sistem senjata kimianya dengan menembakkan mortir-mortir yang mengandung senjata kimia. Uji coba ini digelar di pusat riset bernama Diraiham, yang berlokasi di gurun pasir dekat Desa Khanasir, sebelah timur Kota Aleppo.
(ita/nrl)











































