"Sekitar 5 atau 6 mortir kosong yang dirancang khusus untuk membawa senjata kimia ditembakkan dari sejumlah tank dan pesawat tempur dari sebuah lokasi yang disebut Diraiham, di wilayah gurun dekat desa Khanasir," demikian seperti dilaporkan oleh majalah Jerman, Der Spiegel, seperti dilansir AFP, Selasa (18/9/2012).
Uji coba tersebut dilakukan di sebuah pusat penelitian bernama Safira, yang selama ini diyakini sebagai lokasi pembuatan senjata kimia terbesar di Suriah. Meskipun fasilitas berpagar tinggi tersebut secara resmi disebut 'pusat penelitian ilmiah'.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Disebutkan juga bahwa sejumlah ilmuwan dari Iran dan Korea Utara ikut serta dalam pengembangan senjata kimia ini. Meskipun tidak dijelaskan secara detail, namun sejumlah dinas intelijen Barat menyebut Suriah tengah memproduksi senjata kimia mematikan, sejenis 'sarin' dan 'mustard gas'.
Beberapa bulan khawatir, negara-negara Barat dikhawatirkan dengan upaya pengembangan senjata kimia yang dilakukan oleh Suriah. Bulan lalu, Presiden Prancis Francois Hollande memperingatkan Suriah bahwa penggunaan senjata kimia bisa menjadi alasan kuat bagi intervensi asing di negara tersebut.
Diketahui bahwa pada tahun 1970-an silam, gudang senjata kimia Suriah dikenal sebagai yang terbesar di kawasan Timur Tengah. Beberapa waktu lalu, pemerintah Suriah menyatakan pihaknya akan terpaksa menggunakan senjata kimia jika diserang militer asing.
(nvc/ita)











































