"Kami menerima perintah pada Kamis (13/9) malam untuk segera membatalkan semua penerbangan demi alasan keamanan," ujar seorang sumber dari bandara Benghazi kepada AFP, Jumat (14/9/2012).
Sumber tersebut menambahkan, sebuah pesawat milik Tunisair yang harusnya lepas landas pada Kamis (13/9) malam, terpaksa dilarang terbang menyusul diberlakukannya instruksi tersebut.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lebih lanjut, sumber dari bandara tersebut mengaku tidak ada alasan resmi terkait penutupan Bandara Benina di Benghazi. "Adanya ancaman rudal udara kemungkinan berada di balik keputusan ini," cetusnya.
"Diketahui bahwa pasca lengsernya Muammar Khadafi, ribuan rudal udara milik militer Libya dilaporkan hilang. Rudal-rudal ini bisa ditembakkan dengan alat peluncur portabel.
Sementara itu, maskapai penerbangan Libya, Afriqiyah, mengumumkan hal ini melalui akun Twitter-nya. "Seluruh penerbangan dari dan ke Bandara Benina dibatalkan merujuk pada kondisi keamanan."
Seorang sumber dari militer Libya menyatakan memang ada 'ancaman' di balik penundaan penerbangan-penerbangan tersebut. Namun dia tidak memberi penjelasan lebih lanjut. Sementara salah seorang saksi mata menuturkan, sebuah pesawat tak berawak sempat terbang di langit Benghazi sepanjang Kamis (13/9) malam hingga Jumat (14/9) pagi waktu setempat.
Para demonstran menyerbu konsulat AS di Benghazi guna memprotes film 'Innocence of Muslims' yang telah merendahkan Islam dan Nabi Muhammad. Dubes AS untuk Libya Christopher Stevens tewas dalam serbuan tersebut. Hasil pemeriksaan menunjukkan Stevens tewas akibat menghirup terlalu banyak asap, setelah terjebak di dalam gedung konsulat yang terbakar. Dugaan sementara, di antara para demonstran terdapat kelompok militan yang menembakkan roket ke gedung konsulat tersebut.
Pemerintah AS menyatakan, pihaknya tengah menyelidiki insiden ini secara menyeluruh untuk mengetahui adanya keterlibatan kelompok militan, seperti Al-Qaeda dan kelompok lainnya.
(nvc/ita)











































