"Kekerasan terhadap para diplomat tak bisa dibenarkan di manapun, atau dalam kondisi apapun," demikian statemen Kementerian Luar Negeri Kuba seperti dilansir media AS, huffingtonpost, Kamis (13/9/2012).
Presiden Kuba Raul Castro dan kakak laki-lakinya, Fidel Castro yang sebelumnya memimpin Kuba, merupakan sekutu kuat mendiang mantan pemimpin Libya, Muammar Khadafi. Kuba juga mengecam serangan NATO yang berhasil menumbangkan kekuasaan Khadafi.
Serangan ke konsulat AS di Benghazi pada Selasa, 11 September malam waktu setempat, terjadi saat aksi protes massa atas film kontroversial "Innocence of Muslims" yang menghina Nabi Muhammad.
Namun serangan di areal konsulat AS itu dilakukan oleh kelompok bersenjata yang lebih ganas daripada para demonstran. Akibatnya, para pakar yakin bahwa serangan itu merupakan operasi militan yang telah direncanakan dengan matang.
Terlebih lagi serangan itu terjadi pada 11 September, yang bertepatan dengan peringatan 11 tahun serangan teroris 11 September 2001 di New York dan Washington. (ita/)











































