"Itu hipotesa yang ada saat ini," kata seorang pejabat senior AS kepada kantor berita AFP, Kamis (13/9/2012).
Para militan tampaknya memanfaatkan aksi protes atas film kontroversial "The Innocence of Muslims" sebagai kesempatan untuk melancarkan serangan dengan menggunakan roket dan senapan, yang berlangsung beberapa jam. Akibatnya, tim keamanan di konsulat AS di Benghazi pun kewalahan.
"Ini serangan yang kompleks," kata pejabat AS yang enggan disebutkan namanya itu. "Mereka tampaknya menggunakan ini (aksi protes) sebagai kesempatan," imbuhnya.
Menurut para pakar, serangan itu sudah hampir pasti merupakan perbuatan para militan yang terinspirasi atau bahkan disponsori Al Qaeda atau afiliasinya. Dikatakan Isobel Coleman, seorang pakar di Dewan Hubungan Luar Negeri, para ekstremis telah berupaya memanfaatkan kekosongan kekuasaan di Libya sejak tumbangnya rezim Muammar Khadafi tahun 2011 lalu.
"Kita telah lama tahu, bahwa sejak tumbangnya Khadafi, ada kelompok-kelompok yang tetap berada di luar kendali pemerintah, bahwa mereka bersenjata lengkap," cetus Coleman.
(ita/)











































