"Prancis meminta pemerintah Libya untuk menyingkap titik terang dalam aksi kejahatan yang menjijikkan dan tidak bisa diterima ini, menemukan para pelaku dan membawa mereka ke jalur hukum," ujar Presiden Hollande seperti dilansir AFP, Rabu (12/9/2012).
Pernyataan Hollande ini dikeluarkan hanya beberapa saat setelah Presiden AS Barack Obama memastikan bahwa Dubes Stevens merupakan salah satu dari 4 warga AS yang tewas dalam serangan demonstran di Konsulat AS di Benghazi, Libya timur.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Pemerintahan baru berdiri di Libya. Kami berharap dan terus berharap mereka mampu meredakan konflik di negara tersebut yang jelas-jelas memiliki kelompok ekstremis yang kerap bertindak sewenang-wenang. Hal seperti ini tentu saja tidak bisa diterima dan pemerintah Libya harus bertindak tegas," tandas Menteri Luar Negeri Prancis Laurent Fabius.
Sebelumnya diberitakan Dubes AS untuk Libya, J Christopher Stevens, beserta 3 staf diplomatiknya tewas di Benghazi. Mereka tewas dalam serangan yang dilakukan para demonstran di kantor Konsulat AS di Benghazi.
Komisi Keamanan Tinggi Benghazi Fawzi Wanis memastikan bahwa Stevens berada di dalam kantor konsulat saat para demonstran menyerang. Stevens yang memulai kariernya dari Kementerian Luar Negeri AS ini telah menjalankan tugasnya sebagai Dubes AS di Libya sejak Mei lalu.
Dubes Stevens tewas ketika ratusan demonstran bersenjata menyerang kantor Konsulat AS di Benghazi. Para demonstran tengah memprotes sebuah film yang dinilai merendahkan Islam dan Nabi Muhammad. Masih berkaitan dengan film yang diunggah ke YouTube ini, warga di Kairo, Mesir juga melakukan unjuk rasa dan menyerbu kantor Kedubes AS di sana.
Menurut Wall Street Journal, film yang dipermasalahkan oleh para demonstran ini merupakan film buatan seorang sutradara keturunan Israel-Amerika. Film ini dinilai telah mengambarkan Islam seperti penyakit 'kanker' dan menggambarkan Nabi Muhammad tidur dengan sejumlah wanita.
(nvc/ita)











































