Suu Kyi rencananya akan dianugerahi Medali Emas Kongres alias Congressional Gold Medal pada pekan depan. Perempuan berumur 67 tahun tersebut akan menerima penghargaan tertinggi Washington itu atas pengalaman hidupnya yang telah menjadi tahanan rumah selama 15 tahun.
Namun kelompok-kelompok HAM dan sejumlah akademisi telah mengungkapkan kekecewaan atas sikap Suu Kyi mengenai penderitaan muslim Rohingya. Ini dikarenakan Suu Kyi tidak pernah mengeluarkan pernyataan berarti mengenai kekerasan sektarian antara warga Rohingya dan Buddha di negara bagian Rakhine, Myanmar. Apalagi untuk mendukung Rohingya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Para analis memperkirakan Suu Kyi akan ditanyai pendapatnya mengenai Rohingya selama kunjungannya ke AS nanti. Namun menurut para diplomat, pemimpin oposisi Myanmar itu akan mendapat kecaman dari warga Buddha Myanmar, termasuk para pendukungnya, jika dia mengutarakan dukungan untuk Rohingya.
Apalagi para biksu yang selama ini pro-demokrasi telah turun melakukan aksi protes dengan turun ke jalan-jalan di Kota Mandalay, Myanmar guna menuntut pengusiran warga Rohingya.
Menurut Phil Robertson dari organisasi HAM Human Rights Watch, komunitas internasional menanti kepemimpinan Suu Kyi dalam krisis Rohingya.
"Kami mendorong dia untuk bicara dan mengambil peran kepemimpinan dalam situasi ini," ujarnya.
Sejak kekerasan sektarian antara Rohingya dan Buddha di Rakhine terjadi pada Juni lalu, sekitar 80 orang tewas dan 100 ribu orang kehilangan tempat tinggal. Suu Kyi menolak menjawab apakah Rohingya seharusnya diberikan status kewarganegaraan.
Warga muslim Rohingya selama ini dianggap sebagai imigran ilegal dari Bangladesh. Padahal mereka telah berabad-abad tinggal di Myanmar. Namun pemerintah Myanmar terus menolak mengakui kewarganegaraan Rohingya.
(ita/vta)











































