"Kami sangat sedih atas insiden ini. Semua doa kami bagi keluarga korban dan orang-orang yang menjadi korban dalam serangan ini," ujar Menteri Luar Negeri AS, Hillary Clinton, seperti dilansir AFP, Rabu (12/9/2012).
Dalam insiden ini, warga setempat berunjuk rasa menentang sebuah film yang dinilai menghina Nabi Muhammad dan Islam. Warga yang terbakar amarah, menggerebek kantor konsulat AS di Benghazi dan menyerang kantor tersebut dengan granat hingga membakarnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menlu Hillary menyatakan, dirinya telah berbicara langsung dengan pemimpin Libya Mohamed al-Megaryef untuk meminta kerja sama dalam peningkatan keamanan dan perlindungan terhadap setiap warga AS yang bertugas di Libya.
"Merujuk pada insiden ini, pemerintah AS bekerja sama dengan semua mitranya di seluruh dunia untuk melindungi personel militer, utusan diplomatik dan setiap warga negara AS yang ada di berbagai belahan dunia," tutur Hillary.
Aksi unjuk rasa serupa juga terjadi di Kantor Kedutaan Besar (Kedubes) AS di Kairo, Mesir, kemarin (11/9). Saat itu warga menyerbu kantor Kedubes dan merobek bendera AS.
Menurut BBC, film yang menjadi kontroversi tersebut merupakan garapan sejumlah warga Mesir yang berada di luar negeri dan cuplikannya telah muncul di YouTube dalam bahasa Arab. Terhadap hal ini, Kedubes AS sebelumnya telah melontarkan kecaman terhadap apa yang mereka sebut sebagai penyalahgunaan kebebasan hak individu yang bertujuan menyakiti perasaan umat Islam. Hal ini kembali ditegaskan oleh Menlu Hillary.
"Beberapa mungkin berpikir untuk membenarkan tindakannya mengunggah bahan ke internet yang jelas-jelas memicu kemarahan. AS menyesalkan setiap tindakan yang dimaksudkan untuk merendahkan agama dan keyakinan lain," tegas mantan ibu negara AS itu.
"Tapi biar saya jelaskan: Tidak akan pernah ada pembenaran apapun untuk setiap tindakan kekerasan semacam ini," tandas istri mantan Presiden AS Bill Clinton itu.
(nvc/ita)











































