Penarikan lebih awal ini diduga dipengaruhi oleh insiden bulan lalu yang menewaskan 3 tentara asing yang terdiri dari dua pria dan seorang wanita, dalam serangan bom pinggir jalan di wilayah Bamiyan, di mana sejumlah tentara Selandia Baru diterjunkan sejak tahun 2003 lalu. Jadwal penarikan seluruh tentara asing yang tergabung dalam NATO adalah akhir tahun 2013.
Menteri Pertahanan Selandia Baru Jonathan Coleman menyatakan, proses pemulangan 145 tentara Selandia Baru yang menjadi anggota tim rekonstruksi provinsi (PRT) di Bamiyan saat ini telah mencapai tahap akhir dengan pihak International Security Assistance Force (ISAF). Namun sebelum pulang, tentara Selandia Baru akan menyerahkan kembali kendali dan pengawasan keamanan wilayah Bamiyan kepada otoritas dan militer setempat.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selama diterjunkan di wilayah Afghanistan, total ada 10 tentara Selandia Baru yang tewas saat bertugas. Lima orang di antaranya tewas dalam aksi kekerasan militan bulan Agustus lalu. Pemerintah Selandia Baru telah membantah keterlibatan kematian para tentara tersebut dengan penarikan lebih awal ini. Menurut pemerintah Selandia Baru, penarikan lebih awal ini telah dirundingkan selama beberapa bulan terakhir.
Secara terpisah, Menteri Luar Negeri Selandia Baru Murray McCully menyatakan, pihaknya akan tetap menjaga hubungan baik dan peran penting di Provinsi Bamiyan meskipun tentara Selandia Baru sudah tidak bertugas di sana. McCully juga memastikan dukungan penuh atas pelatihan militer Afghanistan dengan tentara Selandia Baru.
Sementara itu, diketahui sekitar 40 tentara elit asal Selandia Baru yang tergabung dalam Special Air Services (SAS) yang bermarkas di Kabul telah mengakhiri misinya pada Maret tahun ini.
(/)











































