Seperti dilansir oleh AFP, Selasa (28/8/2012), kedua pemuda nekat ini bernama Lobsang Kaisang (18) yang merupakan seorang biksu dan Damchoe (17) yang merupakan mantan biksu. Mereka nekat melakukan aksi ini ketika ikut serta dalam unjuk rasa yang digelar di dekat Kuil Kirti di Aba, Provinsi Sichuan.
Kedua pemuda ini meneriakkan slogan yang mengecam polisi China di Tibet, lalu membakar dirinya sendiri. Sayang, keduanya dinyatakan meninggal ketika dibawa ke rumah sakit setempat.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Hak asasi mendasar bagi warga Tibet terus diabaikan oleh para pemimpin internasional yang mengkhawatirkan hubungan negaranya dengan China. Ini momen yang tepat bagi kita untuk berbicara dan memperjuangkan kebebasan Tibet," ujar Direktur Free Tibet, Stephanie Brighen.
Dituturkan Stephanie, Damchoek merupakan saudara laki-laki dari Tenzin Choedon, seorang biksuni muda yang melakukan aksi bakar diri pada Februari lalu.
Aksi protes menentang pemerintah China dimulai di wilayah Lhasa pada tahun 2008 lalu. Beberapa waktu kemudian, aksi protes tersebut meluas ke wilayah Tibet lainnya. Menghadapi aksi protes ini, pemerintah China menempatkan militernya untuk menjaga keamanan. Bahkan pada Juli lalu, pemerintah China menyerukan agar otoritas setempat dan penjaga keamanan meningkatkan perlawanan terhadap gerakan separatis yang muncul di Tibet.
Warga Tibet sendiri merasa terkekang dengan kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintah China. Menurut mereka, pemerintah China telah membatasi kebebasan beragama dan juga budaya mereka. Namun pemerintah China bersikeras bahwa warga Tibet bebas menjalankan agamanya dan banyak mendapat keuntungan dengan adanya ekspansi ekonomi China di wilayah tersebut.
(nvc/nrl)











































