"Kita bisa mulai membicarakan dan merencanakan lebih banyak lagi tentang apa yang terjadi berikutnya, hari setelah rezim ini jatuh," kata Menteri Luar Negeri AS Hillary Clinton dalam kunjungan ke Afrika Selatan.
"Saya tahu itu akan terjadi," imbuh mantan ibu negara AS tersebut seperti dilansir kantor berita AFP, Rabu (8/8/2012).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Terkait krisis Suriah ini, Presiden AS Barack Obama bahkan telah berulang kali membahasnya dengan Perdana Menteri Turki Recep Tayyip Erdogan dan sekutu-sekutu Eropa. Washington juga terus berdialog dengan Yordania. Pekan lalu, Menteri Pertahanan AS Leon Panetta berkunjung ke Yordania untuk membahas konflik Suriah ini.
Obama pekan lalu dilaporkan telah menandatangani dokumen yang mengizinkan badan intelijen CIA melakukan aktivitas rahasia untuk mendukung para pemberontak Suriah. Obama juga menyediakan tambahan US$ 12 juta dalam bentuk bantuan kemanusiaan untuk para warga sipil Suriah yang menjadi korban konflik.
"Ini situasi kemanusiaan yang parah, kita bicara soal sekitar setengah juta orang yang kelaparan. Kita bicara soal puluhan ribu orang yang membanjiri perbatasan," kata seorang pejabat senior AS.
Washington sebelumnya telah memberikan bantuan senilai US$ 25 juta dalam bentuk peralatan medis dan suplai komunikasi untuk para pemberontak Suriah.
(ita/nvt)











































