Situs Toptenz, Selasa (7/8/2012), merangkum 9 orang whistleblower yang berani membongkar skandal besar di lingkungan mereka. Tak sedikit dari mereka yang mendapat perlawanan, bahkan juga harus ikut masuk penjara.
Berikut 9 orang pemberani itu:
Cheryl Eckard
|
|
Namun peringatan itu tak digubris. Malah, dia dipecat gara-gara kepeduliannya itu. Hingga akhirnya, Eckard melaporkan aksi korporasinya ke pejabat berwenang dan penegak hukum.
Setelah melalui perjuangan panjang di pengadilan, GlaxoSmithKline akhirnya kalah. Perusahaan farmasi itu dikenai denda sebanyak US$ 750 juta dan harus membereskan masalah di pabriknya. Sementara Eckard mendapat bagian US$ 96 juta karena kerugiannya.
Marc Hodler
|
|
Hodler adalah salah seorang anggota Komite. Bekas pelatih Ski asal Swiss itu mengungkap adanya pemberian uang, biaya perjalanan, pekerjaaan bahkan operasi pelastikan kepada anggota komite dari pejabat kota Salt Lake. Tidak bisa dipastikan berapa jumlahnya, namun Salt Lake City mengeluarkan kelebihan biaya sekitar US4 400 juta untuk biaya olimpiade.
Berkat aksi Hodler, beberapa anggota Komite dikenai sanksi. Beberapa aturan soal pemilihan tuan rumah olimpiade pun diubah.
Mark Whitacre
|
|
Whitacre mengatur skema harga sebuah produk industri makanan bersama perusahaan-perusahaan lainnya. Aksi ini jelas merugikan, terutama para petani.
Namun lewat dorongan sang istri, Whitacre akhirnya mau mengakui perbuatannya di depan FBI dan mengadukan bos-bos perusahaan agribisnis lainnya. Dia bahkan menjadi mata-mata FBI dengan merekam semua rapat-rapat rahasia perusahaan itu. Bukti-bukti yang diperolehnya banyak bermanfaat bagi penegak hukum.
Sayang, dia juga harus mendekam di penjara karena perbuatannya di masa lalu. Kisah Whitacre sudah difilmkan oleh Matt Damon dengan judul The Informant.
Coleen Rowley
|
|
Akhirnya, insiden yang menewaskan ratusan jiwa di World Trade Center itu pun tak terhindarkan. Padahal menurut Rowley, dia bisa mencegahnya bila diberi izin memeriksa Moussaoui.
Akibat aksi berani Rowley, kini FBI membuat skema baru dalam mencegah aksi terorisme. Dia kini sudah pensiun dan menjadi "Men of the Year" tahun 2002.
Peter Buxtun
|
|
Tim mencari sekelompok orang keturunan Afrika-Amerika yang menderita penyakit itu, lalu dibiarkan tanpa pengobatan. Praktik ini dilakukan bertahun-tahun. Total korbannya mencapai 399 orang.
Meski akhirnya ditemukan metoda penyembuhan dengan cara ini, namun tetap saja sisi kemanusiaan diabaikan oleh para peneliti itu. Hinga akhirnya Buxtun sebagai salah satu anggota tim melaporkan kejadian ini ke salah satu koran di tahun 1966. Studi itu belakangan dihentikan dan para korban diberi pengobatan maksimal seumur hidup mereka.
Karen Silkwood
|
|
Suatu hari dia menemukan pelanggaran besar terkait kesehatan dan keselamatan pekerja di Kerr-McGee. Dia pun berinisiatif melaporkannya ke Komisi Energi dan Atom. Namun laporan itu malah berbuah petaka.
Silkwood dilaporkan terkontaminasi plutonium, zat berbahaya akibat nuklir. Ternyata zat itu banyak ditemukan di rumahnya. Silkwood menduga, zat itu sengaja disebar oleh perusahaannya.
Karena kecewa, dia lalu berniat membeberkan masalah ini ke seorang wartawan New York Times. Namun di perjalanan, wanita muda itu tewas dalam kecelakaan. Spekulasi berhembus, aksi ini dilakukan oleh perusahaan Ker-McGee. Namun selalu dibantah.
Bradley Manning
|
|
Bersama Julian Assange dengan Wikileaks, dia membocorkan banyak data rahasia tentara AS. Selama bertugas di Irak, Manning meretas ratusan dokumen menarik soal perang Irak dan Afghanistan. Kabel-kabel diplomatik AS juga dia bocorkan.
Lewat bantuan Assange, informasi-informasi rahasia itu akhirnya menyebar ke sejumlah media dunia. Aksi Manning bakal diingat sebagai seorang whistleblower yang pernah menghebohkan dunia.
W Mark Felt
|
|
Nixon pernah diduga terlibat dalam berbabagi operasi ilegal dan kekerasan. Felt mengungkap semuanya lewat bantuan media, the Washington Post. Peristiwa ini dikenal dengan skandal Watergate.
Gara-gara aksi Felt, presiden Nixon terpaksa turun dari jabatannya. Sejak saat itu, publik Amerika tidak sepenuhnya percaya pada institusi kepresidenan.
Halaman 2 dari 9










































