Banjir tersebut dipicu oleh Badai Topan Damrey yang diwarnai oleh hujan deras tiada henti di wilayah timur laut China. Bencana alam ini telah memakan 10 korban jiwa dan 11 orang lainnya dilaporkan masih hilang.
Seperti dilansir oleh Sydney Morning Herald, Selasa (7/8/2012), para pekerja konstruksi tersebut terjebak di dalam terowongan bawah tanah yang menjadi lokasi proyek pembangunan rel kereta bawah tanah di kota Chaotao, dekat kota Benxi. Sebagian besar pekerja yang terjebak berasal dari perusahaan rekonstruksi dan perusahaan air setempat.
Petugas baru berhasil menyelamatkan sekitar 20 pekerja yang terjebak di dalam terowongan pada Senin (6/8) waktu setempat. Tim penyelamat menggunakan tali untuk menarik satu per satu pekerja dari dalam terowongan.
Menurut petugas penyelamat, ketinggian banjir dalam terowongan tersebut telah mencapai 2 meter. Hal ini disebabkan oleh letak terowongan yang dekat dengan dua sungai, yakni Sungai Xihe dan Sandaohe.
Sementara itu dilaporkan lebih dari 110 ribu warga di kota Xiuyan kehilangan tempat tinggal mereka akibat banjir ini. Sedikitnya 6 orang di wilayah tersebut tewas dan 14 ribu rumah warga rusak akibat diterjang banjir.
Dampak badai Damrey dirasakan langsung oleh 2 juta warga di wilayah Liaoning. Aliran listrik terputus dan sejumlah jalan serta rel kereta terisolasi akibat banjir. Petugas penyelamat harus menggunakan perahu dan bahkan helikopter untuk menyelamatkan warga yang terjebak banjir di Liaoning.
Badai Damrey beserta badai Saola menerjang wilayah China sejak Kamis (2/8) malam waktu setempat. Badai tersebut disertai hujan deras dan angin kencang yang memicu banjir dan tanah longsor di sejumlah wilayah. Bulan Juli lalu, banjir dan tanah longsor yang melanda China menewaskan ratusan orang dan memaksa lebih dari 1 juta warga mengungsi.
(/)











































