Menurut Annan, kedua negara tersebut harus bersatu dan mencairkan perbedaan yang selama ini muncul ketika membahas persoalan Suriah. Annan menekankan bahwa intervensi militer negara-negara Barat atas Suriah tidak akan bisa berhasil jika dilakukan tanpa koordinasi. Keberadaan solusi politik yang tidak komprehensif pasti akan gagal.
"Suriah masih bisa diselamatkan dari musibah terburuk. Tapi hal ini membutuhkan keberanian dan kepemimpinan, dari seluruh anggota tetap Dewan Keamanan PBB, termasuk Presiden Putin dan Obama," ujar Annan dalam pernyataannya seperti dilansir oleh AFP, Jumat (3/8/2012).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dalam pengunduran dirinya, Annan mengeluhkan rencana perdamaiannya atas Suriah yang tidak mendapat dukungan dari negara-negara kuat di wilayah Barat. Ketika tentara Suriah mulai menerjunkan pesawat jet untuk melawan pemberontak di wilayah Aleppo, Annan mengaku sangat menyesalkan tindakan tersebut dan menyebut adanya peningkatan militerisasi oleh rezim Suriah.
Dalam konferensi pers di Jenewa, Swiss pada Kamis (2/8) waktu setempat, Annan menyatakan akan mengundurkan diri dari perannya sebagai utusan PBB dan Liga Arab. Annan akan mengundurkan diri mulai akhir Agustus mendatang. Annan mengatakan tidak mungkin baginya menjalankan tugasnya jika tidak ada persatuan dalam Dewan Keamanan PBB seiring dengan semakin meningkatnya militerisasi rezim Suriah di lapangan.
"Namun demikian pertumpahan darah berlanjut, terutama disebabkan kerasnya pendirian pemerintah Suriah, dan penolakannya melaksanakan rencana enam pokok, dan juga karena peningkatan aksi militer oleh oposisi -- semuanya diperburuk dengan perpecahan di kalangan masyarakat internasional," jelas Kofi Annan.
(nvc/ita)










































